Max Verstappen memilih pendekatan berbeda pada sesi latihan bebas kedua (FP2) Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang. Alih-alih menjalani simulasi kualifikasi seperti biasa, pembalap Red Bull Racing itu langsung tancap gas untuk long run. Keputusan ini diambil karena ancaman hujan yang mencapai 90 persen, tetapi juga karena satu alasan teknis yang lebih krusial: degradasi ban.
“Saya ingin melakukan long run kalau-kalau hujan datang,” ujar Verstappen singkat. Pernyataan itu menegaskan bahwa fokus utamanya bukanlah catatan waktu tercepat, melainkan mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang perilaku ban di aspal Sepang yang terkenal kasar.
Direktur Teknis Red Bull, Pierre Wache, menjelaskan bahwa timnya sengaja mengorbankan simulasi kualifikasi demi long run. “Kami tidak ingin mengompromikan long run, yang menurut saya adalah hal terpenting akhir pekan ini, dalam hal degradasi dan melihat bagaimana ban berperilaku, terutama medium. Kami belum punya data medium, jadi kami prioritaskan itu dan setelahnya sudah terlambat untuk menjalankan soft,” jelas Wache.

Pendekatan ini menyoroti dua hal. Pertama, melihat catatan waktu individu setelah hari Jumat di Kuala Lumpur nyaris tidak ada gunanya. Hanya long run yang memberikan gambaran utuh, sehingga klasifikasi FP2 harus dibaca dengan lebih hati-hati dari biasanya. Kedua, ini menegaskan bahwa tantangan terbesar di Malaysia bukanlah kecepatan satu putaran, melainkan kemampuan menjaga ban tetap hidup selama balapan.
Pirelli mencatat degradasi mencapai dua hingga tiga persepuluh detik per lap, baik pada ban medium maupun soft. “Kami melihat degradasi yang cukup signifikan, cukup tinggi. Saya ingat hanya satu akhir pekan dengan degradasi seperti ini, yaitu Barcelona,” ujar Chief Engineer Pirelli, Simone Berra. “Tingkat penurunan performa cukup penting di sini. Tim perlu mengelola terutama suhu ban belakang, tetapi juga ban depan di tikungan berkecepatan tinggi.”
Kondisi ini bisa menjadi lingkaran setan. Permukaan aspal yang buruk membuat grip rendah, sehingga ban lebih mudah selip dan overheat. Ketika ban belakang kepanasan, traksi hilang, pembalap harus mengurangi throttle, dan lap time pun merosot. Tim yang gagal mengelola suhu ban akan kesulitan bertahan di posisi depan.
Bagi Verstappen dan Red Bull, long run di FP2 menjadi modal berharga untuk menyusun strategi balapan. Mereka perlu memahami seberapa lama ban medium dan soft bisa bertahan, serta kapan waktu ideal untuk pit stop. Sementara itu, tim lain seperti Mercedes dan Ferrari juga dihadapkan pada dilema serupa: mengejar performa kualifikasi atau menyiapkan balapan yang panjang dan melelahkan.
Sepang memang dikenal sebagai salah satu sirkuit paling menantang bagi ban. Kombinasi suhu panas, tikungan cepat, dan permukaan kasar membuat manajemen ban menjadi seni tersendiri. Jika Verstappen dan Red Bull berhasil memecahkan kode ini, mereka bisa memiliki keunggulan besar pada hari Minggu. Namun, jika salah langkah, degradasi bisa menjadi bumerang yang menghancurkan peluang podium.




Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!