Ketegangan sempat melanda garasi Red Bull Racing ketika Max Verstappen harus berhadapan dengan investigasi steward di Grand Prix Singapura. Insiden tersebut bermula pada sesi SQ1 di Marina Bay Street Circuit, di mana kecelakaan yang dialami oleh Sergio Perez memicu berkibarnya bendera kuning tunggal. Puing-puing dari mobil Cadillac yang dikemudikan Perez berserakan di lintasan sebelum sesi akhirnya ditingkatkan menjadi bendera merah. Di tengah kekacauan tersebut, sang juara dunia empat kali tertangkap kamera mendahului Lewis Hamilton tepat di bawah panel lampu bendera kuning.
Berdasarkan panduan penalti resmi dari para pengawas balapan, tindakan mendahului dalam kondisi bendera kuning tunggal selama sesi kualifikasi lazimnya mendatangkan hukuman berat berupa penurunan lima posisi grid. Situasi ini tentu membuat posisi start terdepan sang pembalap asal Belanda berada di ujung tanduk setelah ia sebelumnya berhasil mengungguli rival-rivalnya di SQ3. Namun, dokumen resmi dari steward akhirnya memberikan kejelasan dan memastikan bahwa sang bintang utama tidak akan menerima sanksi apapun, sehingga ia tetap berhak mengamankan pole position untuk sesi sprint.
Dalam investigasi mendalam, para pengawas balapan mendengarkan penjelasan dari kedua pembalap yang terlibat serta menganalisis data telemetri secara menyeluruh. Dokumen steward menyatakan bahwa mobil nomor 3 sedang berada dalam putaran cepat keluar dari Tikungan 7 ketika bendera kuning tunggal dikibarkan. Mobil nomor 44 yang berada di depannya telah mendapatkan peringatan dan memutuskan untuk melambat serta bergeser ke sisi kanan untuk keluar dari jalur balap. Meskipun demikian, manuver mendahului tetap terjadi sebelum Tikungan 8 ketika kedua kendaraan masih berada di dalam sektor bendera kuning.

Data telemetri terbukti krusial dalam menyelamatkan posisi start sang pembalap Red Bull dari ancaman hukuman lima grid. Para steward mengonfirmasi bahwa setelah melihat bendera kuning keluar dari Tikungan 7, ia segera mengangkat kaki dari pedal gas sepenuhnya dalam jarak sekitar 40 meter setelah memasuki sektor tersebut. Di sisi lain, mobil Mercedes yang dikemudikan oleh pembalap Inggris itu sedang melakukan pengereman dan melaju di bawah kecepatan 60 km/jam pada saat tersusul, menciptakan perbedaan kecepatan yang sangat signifikan meskipun mobil di belakangnya juga sudah mulai mengerem.
Para pengawas balapan merasa puas bahwa reaksi yang ditunjukkan sudah sesuai prosedur darurat di bawah bendera kuning. Kecatan saat proses mendahului tercatat sekitar 70 km/jam lebih lambat dibandingkan catatan waktu pada putaran cepat normal di sesi yang sama. Penjelasan dari sang pembalap juga diterima akal sehat, di mana ia menyatakan bahwa upaya menghindari penyelipan secara mendadak justru akan memaksa pengereman berat yang berpotensi memicu situasi tidak aman di lintasan.
Meskipun secara teknis aturan dilanggar karena terjadi aksi mendahului di area terlarang, para petinggi lomba menyimpulkan bahwa kejadian tersebut merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari perbedaan kecepatan penutupan yang ekstrem. Dengan keputusan ini, jalannya akhir pekan balapan di Singapura dipastikan tetap berjalan sesuai hasil di trek tanpa ada perubahan susunan grid yang kontroversial.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!