Toprak Razgatlioglu mengakui tanggung jawab penuh atas hasil mengecewakan di sesi Practice MotoGP Prancis, di mana ia finis di posisi ke-20. Pembalap Pramac Yamaha ini menjadi yang terlambat di antara empat pembalap Yamaha, tertinggal hampir 0,9 detik dari rekan setimnya, Fabio Quartararo.
Razgatlioglu menjelaskan bahwa tantangan utama terletak pada proses adaptasi dengan Sirkuit Bugatti di Le Mans. Ia merasa belum sepenuhnya memahami karakteristik lintasan tersebut, sementara ia terkejut dengan betapa rapatnya gap performa antar pembalap, di mana 19 pembalap teratas hanya terpaut satu detik. Target teknisnya saat ini adalah memperbaiki konsistensi lap untuk bisa menembus catatan waktu di kisaran 1 menit 30 detik pada sesi berikutnya.
Salah satu poin analisis krusial adalah transisi gaya balap dari World Superbike (WSBK) ke MotoGP. Razgatlioglu mengakui bahwa ia masih berjuang meninggalkan gaya balap Superbike-nya yang cenderung berbeda dalam hal manajemen massa dan kecepatan tikungan. Untuk mengatasinya, ia mencoba mempelajari garis balap dan teknik entry tikungan dari Ai Ogura. Meskipun sudah ada kemajuan, ia mencatat bahwa Ogura memiliki keunggulan signifikan dalam akselerasi saat membuka throttle, sebuah area yang masih harus ia perbaiki.

Performa buruk Toprak berbanding terbalik dengan Alex Rins yang mencatatkan hasil gemilang di posisi keenam. Keberhasilan Rins mengamankan tiket langsung ke Q2 membuktikan bahwa motor Yamaha YZR-M1 memiliki potensi kecepatan yang cukup untuk bersaing di papan atas. Hal ini mempertegas bahwa masalah yang dialami Toprak lebih bersifat adaptif terhadap gaya berkendara dan pemahaman sirkuit daripada kendala teknis pada mesin.
Sementara itu, Fabio Quartararo juga mengalami kesulitan dengan finis di posisi ke-17. Quartararo merasa performanya jauh di bawah ekspektasi jika dibandingkan dengan hasil yang ia raih saat sesi tes di Jerez. Ia melaporkan adanya sensasi yang tidak biasa pada motornya dan berencana melakukan analisis mendalam terhadap data yang dikumpulkan oleh Alex Rins untuk menemukan solusi setup yang lebih optimal.
Dinamika di garasi Yamaha saat ini menunjukkan kontras yang tajam. Di satu sisi, Rins menunjukkan performa terbaiknya musim ini meski kontraknya dengan pabrikan Jepang tersebut akan berakhir pada 2027. Di sisi lain, Toprak harus melakukan evaluasi total terhadap teknik mengemudinya agar tidak terus tertahan di papan bawah grid MotoGP yang memiliki karakteristik sangat berbeda dengan balapan produksi yang ia kuasai sebelumnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!