MotoGP, Sportrik Media - Pembalap rookie MotoGP Toprak Razgatlioglu mulai menunjukkan perkembangan pada seri pembuka MotoGP Thailand 2026 setelah menyadari bahwa motor Yamaha M1 tidak dapat dikendarai dengan pendekatan seperti motor Superbike.
Menurut Managing Director Yamaha Racing Paolo Pavesio, juara dunia WorldSBK tersebut menghabiskan sebagian besar tes pramusim dengan mencoba menyesuaikan setelan MotoGP agar lebih mendekati karakter motor Superbike yang selama ini menjadi kekuatannya.

Pendekatan tersebut memang mempertahankan keunggulan khas Razgatlioglu saat pengereman keras, namun menimbulkan kesulitan di area lain seperti kecepatan di tengah tikungan dan traksi keluar tikungan. Setelan yang terlalu menyerupai motor Superbike bahkan memunculkan kendala teknis, termasuk keharusan melepas komponen aerodinamika belakang agar tetap memenuhi regulasi tinggi motor.

Pada akhir pekan balapan di Buriram, Yamaha akhirnya kembali menggunakan paket aerodinamika belakang secara penuh setelah Razgatlioglu mulai memahami karakter asli motor MotoGP.
“Saya pikir Toprak melakukan pekerjaan yang sangat baik. Selama musim dingin dia mencoba membuat MotoGP terasa seperti Superbike agar lebih nyaman,” ujar Paolo Pavesio.
“Kemudian dia memahami bahwa MotoGP tetaplah MotoGP, dan ada beberapa hal yang tidak boleh dikompromikan,” tambahnya.
Dalam balapan di Buriram, Razgatlioglu finis di posisi ke-17. Meski berada di luar zona poin, ia sempat menunjukkan kecepatan yang cukup kompetitif dengan berada dekat dengan pembalap Yamaha lain seperti Fabio Quartararo dan Alex Rins, serta bahkan berada di depan rekan setimnya di Pramac Racing, Jack Miller, pada beberapa fase balapan.
Pavesio menjelaskan bahwa Yamaha sengaja memberi kebebasan kepada Razgatlioglu untuk mencoba pendekatan teknisnya sendiri selama tes pramusim. Menurutnya, pembalap Turki tersebut perlu memahami sendiri perbedaan mendasar antara motor Superbike dan prototipe MotoGP.
“Setelah bertahun-tahun sukses di WorldSBK, dia mencoba mencari cara membuat MotoGP terasa lebih dekat dengan Superbike. Kami mendukungnya karena kami pikir itu kesempatan yang penting baginya,” jelas Paolo Pavesio.
Perbedaan karakter motor ini juga disoroti oleh tiga kali juara dunia MotoGP Jorge Lorenzo, yang melihat langsung gaya berkendara Razgatlioglu saat tes pramusim di Buriram.
“Motor prototipe sangat kaku dan membutuhkan banyak kecepatan di tikungan. Dia mencoba mengendarai seperti Superbike: pengereman sangat keras, memindahkan motor, membuat garis ‘V’ seperti stop-and-go,” jelas Jorge Lorenzo.

Setelah Grand Prix Thailand, Razgatlioglu juga mendapatkan tambahan waktu lintasan melalui tes privat Yamaha di Jerez, memanfaatkan status konsesi yang dimiliki pabrikan Jepang tersebut. Pengalaman tambahan itu diharapkan membantu proses adaptasinya menjelang putaran kedua MotoGP 2026 di Goiania, Brasil, yang menjadi tantangan baru bagi seluruh pembalap di grid.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!