SPONSORED

Steven Odendaal Ungkap Perjuangan Sembuh dari Cedera Saraf di EWC 2026

Notifikasi
Luki Hidayatudin
Luki Hidayatudin
0
Steven Odendaal Ungkap Perjuangan Sembuh dari Cedera Saraf di EWC 2026
TO NEWS OVERVIEW
Steven Odendaal© BMW

Juara Dunia Ketahanan Steven Odendaal baru saja mengungkap fakta mengejutkan di balik kesuksesan besar yang diraihnya bersama tim pabrikan BMW sepanjang kejuaraan dunia FIM EWC musim 2026 ini. Di balik gemerlap trofi bersejarah yang diraih bersama rekan setimnya, pembalap asal Afrika Selatan tersebut ternyata harus melewati fase tergelap dalam karier profesionalnya akibat cedera serius yang menghantam persiapan fisiknya secara drastis sejak awal tahun.

Permasalahan pelik tersebut bermula dari insiden kecelakaan parah yang dialaminya pada awal tahun 2026, yang mengakibatkan gangguan pada bagian tulang belakangnya. Berdasarkan pengakuan sang pembalap, ia mengalami cedera penonjolan cakram alias pembengkakan bantalan sendi tulang belakang di antara ruas tulang pinggang kelima dan tulang kelangkang pertama yang secara langsung menekan saraf penting di area tersebut.

Dampak dari gangguan medis itu langsung melumpuhkan rutinitas harian sang atlet profesional dalam mempersiapkan diri menghadapi ketatnya persaingan balap ketahanan motor dunia. Mantan pembalap berbakat ini bahkan sama sekali tidak bisa melakukan program latihan fisik jenis apapun, apalagi mengendarai motor balap bertenaga besar, terhitung sejak awal bulan Februari tahun ini.

Menatap Kursi GT3 2026, Cameron McLeod Puas Jajal Ford Mustang
Baca JugaMenatap Kursi GT3 2026, Cameron McLeod Puas Jajal Ford Mustang

“Ab Anfang Februar konnte ich uberhaupt nicht mehr trainieren. Kein Motorradfahren, keine richtige Vorbereitung und keine Moglichkeit, die Form aufzubauen, die ich gebraucht hatte,” ungkap Markus Reiterberger rekan setimnya di garasi BMW turut merasakan bagaimana beratnya tekanan yang harus dipikul oleh sang juara dunia sebelum menghadapi seri pembuka yang sangat menguras fisik.

ADVERTISEMENT

Meskipun berada dalam kondisi fisik yang jauh dari kata ideal dan belum pulih seratus persen, kewajiban profesional tetap memanggilnya untuk turun bertarung di atas lintasan aspal yang menuntut ketahanan prima. Tanpa memiliki kebugaran optimal, ia dipaksa harus langsung memimpin laju motor balap pabrikan Jerman tersebut di ajang legendaris balap ketahanan 24 jam di Le Mans.

“Trotzdem musste ich bei meinem ersten 24-Stunden-Rennen der Saison antreten, obwohl ich bei Weitem nicht auf dem Niveau war, auf dem ich sein wollte,” kenang sang juara dunia menggambarkan betapa berat beban mental serta fisik yang menghimpitnya kala lampu start perlombaan akhirnya dipadamkan di sirkuit penutupan.

ADVERTISEMENT

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Aman, Cepat & Terenkripsi

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

RECOMMENDED FOR YOU