Kejutan terjadi di paddock Supercars ketika Aaron Fraser harus menerima kenyataan pahit kehilangan kursi balapnya di PremiAir Racing lebih cepat dari perkiraan. Keputusan manajemen tim ini langsung memicu sorotan luas, terutama setelah slot mobil yang ditinggalkannya langsung diberikan kepada pembalap muda berbakat asal Erebus Motorsport, Cooper Murray, yang diganjar kontrak berdurasi dua tahun penuh.
Musim ini sejatinya menjadi babak baru bagi Aaron Fraser setelah bergabung dengan skuad PremiAir Racing untuk bertandem berdampingan dengan rekan setimnya. Namun, dinamika di atas lintasan berkata lain. Sepanjang kalender balap tahun ini, performanya dinilai kurang konsisten dan kerap kalah saing dari rekan setimnya yang secara usia jauh lebih muda serta memiliki pengalaman lebih sedikit di kejuaraan level tertinggi ini.
Situasi klasemen sementara pun mempertegas jurang performa di antara garasi tim tersebut. Selepas bergulirnya seri ikonik Bathurst 1000 yang melelahkan, Aaron Fraser terdampar di peringkat ke-21 dalam tabel kejuaraan pembalap. Sementara itu, sang rekan setim mampu mengamankan posisi yang jauh lebih kompetitif di tangga ke-14, memberikan argumen kuat bagi manajemen tim untuk melakukan perombakan besar.

Tidak butuh waktu lama bagi Aaron Fraser untuk merespons keputusan pemecatan tersebut kepada publik. Lewat pernyataan resmi yang dirilis melalui akun media sosial pribadinya tidak lama setelah pengumuman perekrutan Cooper Murray meluncur, ia secara terbuka mengungkapkan kekecewaan mendalam atas akhir perjalanan kariernya di garasi tim yang bersangkutan.
"Waktu saya bersama PremiAir Racing harus berakhir lebih cepat," ujar Aaron Fraser dalam pernyataan resminya. Ia menegaskan bahwa keputusan pahit ini sama sekali bukan berasal dari keinginan atau inisiatif dirinya sendiri, melainkan murni kebijakan dari manajemen tim.
"Tentu saja, saya sangat kecewa dengan bagaimana segala sesuatunya telah bergulir, tetapi saya tidak akan membiarkan keputusan ini mengurangi kerja keras yang telah saya curahkan tahun ini," lanjutnya. Ia turut menyampaikan apresiasi kepada orang-orang di dalam tim yang tulus mendukungnya, serta kepada para sponsor dan keluarga.
Dilansir dari Speedcafe, insiden kehilangan kursi balap ini menandai kali kedua sang pembalap harus menghadapi situasi sulit tanpa kemudi di ajang Supercars. Sebelumnya, ia juga pernah terdepak ketika Tickford Racing memutuskan merampingkan struktur tim dari empat mobil menjadi dua mobil pada akhir musim lalu, sebelum akhirnya sempat menjalani peran sebagai co-driver bersama Brad Jones Racing.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!