Mantan petinggi tim Red Bull, Christian Horner, mengungkapkan bahwa para pemegang saham tim telah menghubunginya secara khusus untuk menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih menyusul kemenangan perdana unit daya buatan Red Bull Ford Powertrains di ajang Formula 1. Telepon apresiasi tersebut datang setelah proyek mesin mandiri yang dirintisnya berhasil mempersembahkan podium tertinggi di Malaysia, sebuah pencapaian monumental bagi pabrikan yang berbasis di Milton Keynes tersebut dalam mengarungi era regulasi baru.
Sepanjang dua dekade kepemimpinannya di pucuk pimpinan skuad, Horner tidak hanya sukses mempersembahkan delapan gelar juara dunia pembalap dan enam gelar konstruktor, tetapi juga memelopori transisi krusial dari status tim pelanggan mesin menjadi pabrikan power unit mandiri. Keputusan strategis mendirikan divisi mesin sendiri diambil menyusul keputusan mundurnya Honda dari ajang Formula 1 pada akhir musim 2021, memaksa tim untuk berdikari dalam mengembangkan teknologi jantung pacu yang kini berkolaborasi bersama raksasa otomotif Amerika Serikat, Ford.
Unit daya Red Bull tersebut langsung mencatatkan sejarah dengan meraih kemenangan perdananya di Malaysia lewat penampilan gemilang sang juara dunia, Max Verstappen. Pembalap asal Belanda itu bahkan mampu melanjutkannya dengan kemenangan beruntun sepekan kemudian, membuktikan bahwa fondasi teknis yang diletakkan pada era kepemimpinan sebelumnya membuahkan hasil kompetitif yang instan di atas lintasan balap modern.

Dalam konferensi di ajang Autosport Business Exchange di New York, Horner mengenang kembali perjuangan berat saat pertama kali membangun proyek divisi mesin dari nol. "Kami berhasil melakukannya di sisi sasis dan kemudian tantangannya muncul, bisakah kami melakukannya di sisi mesin? Anda tahu, kami harus memiliki mesin setelah Honda mengumumkan penarikan diri mereka pada tahun 2020. Jadi kami mendirikan perusahaan rintisan bernama Powertrains ini, dengan filosofi yang sama untuk menarik talenta, memberikan kesempatan kepada orang-orang, dan memberdayakan mereka," ujar Horner.
Meski sempat mengalami pemecatan yang cukup mendadak pada Juli 2025 akibat pergeseran dinamika internal pasca wafatnya pendiri Red Bull, Dietrich Mateschitz, Horner tetap merasa bangga atas dedikasi seluruh pria dan wanita yang terlibat dalam proyek mesin tersebut. Telepon dari para petinggi perusahaan menjadi gestur yang sangat dihargai setelah bertahun-tahun mengorbankan keringat dan air mata, sebuah kontras yang sangat tajam dibandingkan panggilan telepon saat ia diberhentikan 15 bulan sebelumnya.




Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!