Ketua tim Mercedes Formula 1, Toto Wolff, mengungkapkan bahwa timnya tidak memiliki cukup alokasi anggaran untuk mengejar ketertinggalan upgrade dari rival-rival terdekatnya, seperti McLaren dan Ferrari. Pernyataan ini muncul setelah Lando Norris meraih kemenangan grand prix kedua berturut-turutnya di Zandvoort, memperlihatkan dominasi McLaren yang semakin menguat.
Mercedes memulai musim 2026 dengan sangat menjanjikan, memenangkan beberapa balapan awal dan memimpin klasemen. Namun, sejak Grand Prix Kanada di bulan Mei, tim asal Brackley itu nyaris tidak membawa upgrade signifikan. Sementara itu, McLaren dan Ferrari terus mengembangkan mobil mereka secara agresif, mengubah keduanya menjadi pemenang balapan yang konsisten.
Wolff menjelaskan bahwa keterbatasan ini bukan karena kurangnya kemampuan teknis, melainkan karena pembagian anggaran yang sudah diatur sejak awal musim. "Kami tidak punya uang untuk memasang upgrade pada mobil. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami mencoba membagi rata pengeluaran sepanjang musim berdasarkan perhitungan kapan kami bisa membawa upgrade terbesar dan mengoptimalkan poin kejuaraan," ujarnya kepada Autosport.

Meski demikian, Wolff menegaskan bahwa strategi ini bukanlah kesalahan. "Saya tidak berpikir kami menghabiskan terlalu banyak di awal. Kami hanya organisasi dengan ukuran dan infrastruktur tertentu," tambahnya. Ia juga menyoroti masalah reliabilitas power unit yang merugikan Kimi Antonelli dan George Russell, yang membuat mereka kehilangan 50 hingga 100 poin potensial.
Mercedes diperkirakan tidak akan membawa upgrade signifikan hingga putaran di Bahrain pada awal Oktober. Wolff mengisyaratkan bahwa tim lain mungkin memiliki strategi pengeluaran yang berbeda, menghabiskan lebih banyak di awal musim dan mengurangi di akhir. "Anda akan melihat di akhir musim apakah mereka mampu menurunkan sebanyak yang mereka lakukan sekarang," katanya.
Dengan jarak poin yang semakin dekat di klasemen, keputusan Mercedes untuk berhemat kini menjadi sorotan. Meski Wolff tetap yakin dengan pendekatan timnya, tekanan untuk tampil kompetitif di setiap balapan semakin besar. Akankah strategi ini terbukti tepat saat musim memasuki fase krusial?



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!