Luca Marini mengungkap alasan di balik keputusan seluruh pembalap Honda HRC Castrol menggunakan ban belakang kompon lunak pada Assen MotoGP 2026, ketika hampir seluruh rival mereka justru memilih ban medium. Menurut Marini, keputusan tersebut bukanlah strategi agresif, melainkan satu-satunya pilihan realistis untuk mengimbangi keterbatasan karakter RC213V sepanjang balapan.
Strategi itu diterapkan oleh keempat pembalap Honda, sementara sebagian besar grid memilih ban medium untuk balapan sepanjang 26 lap. Hanya beberapa pembalap, termasuk Marc dan Alex Marquez, yang mengambil pendekatan serupa dengan menggunakan ban lunak. Meski demikian, hasil akhirnya belum mampu membawa Honda kembali bersaing di barisan depan. Marini menjadi pembalap Honda terbaik dengan finis di posisi ke-11, bahkan masih berada di belakang dua pembalap pabrikan Yamaha.


Ban Lunak Bukan Pilihan, Melainkan Kebutuhan
Marini menjelaskan bahwa masalah utama Honda bukan terletak pada daya tahan ban, melainkan minimnya grip yang dihasilkan ketika menggunakan ban medium. Berdasarkan evaluasi tim, kompon medium membuat RC213V kehilangan traksi saat keluar tikungan sehingga motor terlalu banyak mengalami wheelspin dan sulit mempertahankan akselerasi.

"Sejujurnya kami tidak punya banyak pilihan. Dengan ban medium, grip kami hampir nol dan kami tidak bisa bertahan karena motor terlalu banyak sliding di mana-mana. Jadi ban lunak menjadi satu-satunya opsi yang kami miliki," kata Marini.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keputusan pemilihan ban lebih dipengaruhi karakter dasar motor dibanding strategi balapan. Honda memilih mendapatkan grip maksimum sejak awal lomba meskipun memahami bahwa performa ban lunak akan mengalami penurunan signifikan pada fase akhir balapan.

Insiden Lap Awal Mengubah Jalannya Balapan
Selain persoalan teknis, Marini juga merasa kehilangan banyak waktu akibat insiden pada Tikungan 5 di lap pertama. Ia mengaku beberapa motor saling bersentuhan dan hingga balapan berakhir tidak mengetahui secara pasti apakah motornya mengalami kerusakan aerodinamika akibat kontak tersebut.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Kami semua saling bersentuhan, mungkin empat atau lima motor. Saya juga tidak tahu apakah ada bagian kecil atau wing yang hilang dari motor saya," ujarnya.
Insiden tersebut membuat Marini terjebak di belakang Jack Miller selama beberapa lap. Ketika akhirnya berhasil menyalip, jarak dengan kelompok di depan sudah cukup besar sehingga ia harus menggunakan ban belakang secara lebih agresif untuk mengejar ketertinggalan.

Harga yang Harus Dibayar Honda
Tekanan untuk mengejar rombongan depan membuat degradasi ban lunak datang lebih cepat dari perkiraan. Marini mengakui dirinya terlalu banyak membebani ban belakang ketika berusaha menyalip Alex Rins. Akibatnya, ia terpaksa mengubah pendekatan balapan hanya untuk memastikan ban tetap bertahan hingga finis.
"Saya mendorong terlalu keras pada ban belakang. Setelah itu saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya harus mengelolanya agar bisa bertahan sampai akhir. Tetapi ketika tiba di lap-lap terakhir, saya sudah tidak memiliki cukup grip untuk mencoba menyalip lagi," jelas Marini.
Ia juga mengungkap kesulitan lain yang muncul ketika mengikuti motor di depan. RC213V kehilangan kemampuan untuk berbelok secara optimal saat berada dalam turbulensi udara pembalap lain. Kondisi tersebut membuat proses akselerasi keluar tikungan semakin lambat dan setiap percobaan menyalip menjadi jauh lebih sulit.

Masalah RC213V Masih Berpusat pada Grip Mekanis
Dari penjelasan Marini, terlihat bahwa persoalan Honda di Assen tidak hanya berkaitan dengan pilihan ban, tetapi juga karakter dasar RC213V yang masih kesulitan menghasilkan grip mekanis secara konsisten. Ban lunak mampu menutupi sebagian kelemahan tersebut pada awal balapan, namun tidak cukup stabil untuk menjaga performa sepanjang 26 lap.
Strategi ini berbeda dengan para rival yang mampu menggunakan ban medium tanpa kehilangan performa secara signifikan. Aprilia, Ducati, dan sebagian besar tim lain dapat mempertahankan ritme balapan hingga lap-lap terakhir karena memiliki keseimbangan grip, traksi, dan pengelolaan ban yang lebih baik.
Tantangan Honda Menuju Sachsenring
Meski gagal menembus 10 besar, data yang diperoleh Honda di Assen menjadi gambaran jelas mengenai arah pengembangan RC213V. Selama motor masih membutuhkan ban lunak hanya untuk menghasilkan grip dasar yang kompetitif, ruang strategi akan tetap lebih sempit dibanding para rival.
Menjelang MotoGP Jerman di Sachsenring, tantangan utama Honda bukan sekadar memilih kompon ban yang tepat, melainkan meningkatkan traksi dan stabilitas motor sehingga pembalap memiliki lebih banyak opsi strategi pada hari balapan. Tanpa peningkatan tersebut, Honda berpotensi kembali dipaksa mengambil pendekatan berbeda hanya untuk mengimbangi keterbatasan paket motornya.
























Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!