Juara dunia Formula 1 Lewis Hamilton akhirnya blak-blakan membuka suara terkait kesalahan strategi krusial yang sempat mengguncang garasinya pada balapan GP Singapura. Dalam sesi konferensi pers resmi FIA menjelang akhir pekan balap di Austin, pembalap asal Inggris tersebut mengakui secara terbuka bahwa keputusan pribadinya untuk tidak masuk ke jalur pit saat penerapan Virtual Safety Car merupakan sebuah perjudian besar yang berujung pada hilangnya poin penting bagi tim.
Peristiwa di Marina Bay tersebut bermula ketika Lewis Hamilton yang memulai lomba dari posisi ketiga grid terdepan mencoba mengambil jalur alternatif demi memburu kemenangan. Alih-alih mengikuti arahan taktik konvensional yang diterapkan rekan setimnya Charles Leclerc, sang juara dunia memilih bertahan di lintasan demi mencari opsi berbeda guna menekan barisan depan, sebuah keputusan instan dalam hitungan detik yang langsung ia sesali begitu ban mulai kehilangan daya cengkeram optimalnya.
'Pertama-tama saya pikir kita belajar dari pengalaman ini, dan sangat jarang bagi saya berada di situasi tersebut. Hari-hari berikutnya sama sekali tidak menyenangkan, tetapi kita belajar. Dari posisi ketiga di grid saya mencari cara untuk menang dan jika memungkinkan saya selalu berusaha melakukan sesuatu yang berbeda. Dan saya ingin mengadopsi strategi yang berbeda, bukan yang sama dengan Charles, karena jika tidak kami akan berada satu di belakang yang lain,' ujar Lewis Hamilton di hadapan para awak media.

Dampak dari blunder taktis tersebut membuat posisinya merosot drastis dari potensi podium kedua hingga harus puas finis di peringkat keenam. Lewis Hamilton secara kesatria mengambil tanggung jawab penuh atas kerugian poin yang diderita skuad Maranello, sembari menegaskan bahwa dinamika internal bersama teknisi justru semakin dipererat melalui evaluasi mendalam usai insiden memalukan tersebut.
'Kami telah melakukan pembicaraan yang baik di balik layar tentang bagaimana cara berkembang bersama dan bagaimana berkolaborasi dengan lebih baik. Secara jujur saya percaya bahwa tugas saya, daripada sekadar melakukan apa yang selalu dilakukan, adalah untuk terus-menerus mempertanyakan tim dan diri saya sendiri. Bahkan secara konstan menantang kebiasaan yang ada. Dan itulah tepatnya bagaimana, pada akhirnya, saya sampai di tempat saya sekarang,' tambahnya menutup sesi tanya jawab.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!