Esteban Ocon dipastikan meninggalkan Haas, dan itu bisa menjadi akhir karier F1-nya untuk saat ini. Namun, ada momen krusial dalam perjalanan kariernya yang layak dikenang: bagaimana George Russell menyalipnya dalam antrean kursi Mercedes.
Pada akhir dekade 2010-an, Ocon nyaris menjadi penerus Lewis Hamilton di Mercedes. Ia bahkan hampir menggantikan Hamilton yang sakit di Grand Prix Jerman 2019—kesempatan yang sama yang kemudian didapat Russell. Saat itu, trek basah Hockenheim bisa menjadi panggung sempurna bagi Ocon, yang dikenal sebagai pembalap handal di kondisi hujan dan sudah akrab dengan mobil W10. Jika ia tampil gemilang, mungkin ia bisa mengalahkan Valtteri Bottas dan mengubah arah kariernya.
Sayangnya, kesempatan itu tak datang. Ocon justru harus menyaksikan dari pinggir lintasan saat Russell, yang baru menjuarai F2 2018, bersinar di musim debutnya bersama Williams. Russell menghancurkan Robert Kubica dan memukau tim dengan kecepatannya. Sementara itu, Ocon tidak pernah benar-benar memberikan argumen kuat untuk menjadi 'Hamilton berikutnya'.

Program junior Mercedes memang bertujuan menemukan superstar F1 berikutnya. Ocon sebenarnya sempat menyalip Pascal Wehrlein sebagai pembalap yang diprioritaskan. Ia juara F3 Eropa 2014 dan GP3 2015, sementara Wehrlein adalah juara DTM 2015 pada usia 18 tahun. Namun, Toto Wolff menilai Ocon lebih menjanjikan. Keputusan itu subjektif, tetapi Wehrlein dianggap tidak memberikan kesan sebaik Ocon.
Pada pertengahan 2016, keduanya sempat menjadi rekan setim di Manor setelah uang Rio Haryanto habis. Mercedes memasok Ocon ke tim kecil itu, dan di sinilah perbandingan langsung terjadi. Meski demikian, Ocon tetap tidak mampu meyakinkan Mercedes bahwa ia layak menjadi penerus Hamilton.
Russell, di sisi lain, tidak pernah membuat kesalahan baik di dalam maupun di luar mobil. Ia tampil konsisten dan cepat, membuat Mercedes yakin bahwa dialah masa depan mereka. Ketika kursi Mercedes akhirnya tersedia, tidak ada keraguan lagi: Russell adalah pilihannya.
Bagi Ocon, ini adalah pukulan telak. Ia harus menerima kenyataan pahit bahwa peluangnya di Mercedes telah hilang. Kini, dengan kepindahannya dari Haas, masa depannya di F1 pun semakin tidak pasti. Namun, kisahnya tetap menjadi pengingat bahwa dalam balapan, timing dan performa di momen krusial sangat menentukan.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!