Lando Norris dan Kimi Antonelli tampil sebagai bintang di GP Belanda 2026, putaran ke-12 Kejuaraan Dunia Formula 1. Norris, yang kini mengendarai dengan bebas setelah gelar juara dunia musim lalu, menunjukkan performa impresif dan kembali menegaskan bahwa dirinya masih menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. Meski tertinggal 83 poin dari Antonelli, Norris tetap menjadi ancaman serius, terutama karena ia mampu mengambil poin dari rival-rival terdekat Antonelli.
Antonelli, yang dijuluki "Babyface", tampil sangat matang dengan mengadopsi gaya balap ala Alain Prost. Ia tidak perlu mengambil risiko berlebihan; cukup konsisten finis di depan dan sesekali melakukan serangan. Keunggulan 60 poin atas George Russell dan Lewis Hamilton membuatnya semakin nyaman di puncak klasemen. Namun, ada kekhawatiran bahwa Norris, dengan performa yang semakin tajam, justru bisa menjadi "penjaga gawang" yang membantu Antonelli dengan menjauhkan para penantang gelar.
Di sisi lain, Fernando Alonso dan Charles Leclerc layak mendapat pujian atas perjuangan mereka. Alonso, di usia 45 tahun, menunjukkan kelasnya dengan strategi sempurna bersama Aston Martin yang kini memiliki sasis baru rancangan Adrian Newey. Mobil AMR26 yang lebih stabil secara aerodinamis memungkinkan Alonso bermain taktik dan finis sebagai yang terbaik di antara tim-tim non-puncak. Sementara itu, Leclerc menjadi satu-satunya pembalap yang berani mencoba sesuatu yang berbeda di sirkuit Zandvoort yang dinilai kuno.

Leclerc memberikan momen spektakuler di Sprint dengan satu-satunya overtake yang layak tonton, lalu mengulanginya di balapan utama saat melewati Oscar Piastri. Namun, mimpi buruknya kembali terulang: kesalahan strategi dari dinding pit Ferrari membuatnya kehilangan hasil maksimal. Ini menjadi kritik tajam bagi tim asal Italia itu yang terus tampil inkonsisten dalam pengambilan keputusan.
Kembalinya Yuki Tsunoda ke grid setelah sembilan bulan absen juga layak diapresiasi. Tanpa persiapan, ia langsung tampil kompetitif dan nyaris mencetak poin untuk Racing Bulls. Aksi heroik Nico Hulkenberg yang menghindari kecelakaan beruntun yang melibatkan Bortoleto juga menjadi sorotan.
Di sisi negatif, Sprint di Zandvoort kembali menuai kritik. Sirkuit ini dinilai tidak cocok untuk format sprint F1 modern, dan balapan Sabtu tersebut justru mengurangi daya tarik. Banyak yang berharap sirkuit ini segera pensiun, terutama setelah kabar bahwa GP Belanda akan dihapus dari kalender mulai 2027 karena alasan finansial dan kurangnya aksi balapan.
Max Verstappen dan Carlos Sainz juga mendapat sorotan tajam. Verstappen tampil mengecewakan di depan publik sendiri, hanya mampu menjadi figuran. Sementara Sainz yang sempat terlibat insiden di pit lane, menunjukkan bahwa ia masih belum menemukan performa terbaiknya musim ini.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!