George Russell menghadapi tekanan yang semakin besar setelah kembali gagal mencetak poin pada Formula 1 Grand Prix Belgia 2026, ketika rekan setimnya di Mercedes, Kimi Antonelli, justru mengamankan kemenangan dan memperlebar keunggulan dalam persaingan kejuaraan.
Balapan Russell berakhir hanya beberapa tikungan setelah start akibat kontak dengan mantan rekan setimnya, Lewis Hamilton, pada lap pertama. Namun, kekecewaan utama pembalap Inggris tersebut tidak hanya berkaitan dengan insiden itu. Ia kembali menyoroti keterbatasan unit tenaga misterius yang telah mengganggunya sepanjang akhir pekan dan disebut kembali muncul pada fase awal balapan.
Masalah tersebut memperbesar kontras di dalam garasi Mercedes. Antonelli berhasil memanfaatkan performa mobil untuk meraih kemenangan, sedangkan Russell mencatat hasil tanpa poin lainnya. Dengan selisih antara kedua pembalap kini mencapai 45 poin pada pertengahan musim, posisi Russell dalam persaingan gelar menjadi semakin sulit meski Antonelli juga sempat menghadapi sejumlah kendala selama kampanye 2026.

The Telegraph menilai persoalan terbesar Russell bukan sekadar hasil buruk, tetapi kemungkinan bahwa kesulitan teknis mulai memengaruhi cara mengemudinya. Gary Anderson menulis bahwa Russell tidak dapat mengandalkan instingnya secara penuh untuk menemukan waktu pada satu putaran karena mobil tidak selalu merespons ketika ia mencoba menekan lebih keras.
“Pada akhirnya, Russell memiliki masalah yang berarti ia tidak dapat mengemudikan mobil secara naluriah dalam satu putaran dan menemukan waktu seperti yang biasanya ia harapkan hanya dengan menekan lebih keras,” tulis Anderson.
“Kekhawatirannya sekarang adalah semua masalah dan kekhawatiran ini, apa pun penyebabnya, semakin menumpuk sehingga ia mencoba menemukan solusi yang tidak biasa, mengemudi dengan cara yang tidak alami, atau sekadar menekan terlalu keras.”
Analisis tersebut menunjukkan adanya risiko Russell mulai memaksakan pendekatan untuk mengompensasi keterbatasan yang belum dapat dijelaskan. Ketika seorang pembalap tidak memperoleh respons yang konsisten dari unit tenaga atau paket mobil, upaya untuk mengejar waktu melalui pengereman lebih agresif, input kemudi yang berbeda, atau kecepatan masuk tikungan yang lebih tinggi dapat meningkatkan peluang terjadinya kesalahan. Dalam konteks perebutan gelar, kondisi tersebut semakin merugikan karena Antonelli terus membangun momentum melalui hasil yang lebih stabil.
La Gazzetta dello Sport bahkan menempatkan Antonelli sebagai favorit utama dalam perebutan gelar setelah kemenangan di Spa-Francorchamps. Pembalap berusia 19 tahun itu sedang mengejar peluang menjadi juara dunia asal Italia pertama sejak Alberto Ascari pada 1953. Media Italia tersebut menilai Russell membutuhkan dorongan besar untuk menghidupkan kembali kampanyenya, terutama karena jarak 45 poin terbentuk saat musim telah mencapai titik pertengahan.
Di luar situasi Mercedes, Grand Prix Belgia juga menegaskan perbedaan performa antartim. Charles Leclerc dan Max Verstappen mengamankan posisi podium, sedangkan McLaren tidak mampu terlibat secara konsisten dalam pertarungan kemenangan. Isack Hadjar juga mencatat kemajuan kuat setelah memulai balapan dari belakang grid akibat penggunaan komponen unit tenaga baru sebelum finis keenam.
L’Equipe menyoroti bahwa hasil tersebut menjadi finis enam besar keenam secara beruntun bagi Hadjar. Pencapaian itu merupakan rangkaian pertama dari seorang pembalap Prancis sejak Alain Prost pada 1993. Prinsipal Red Bull Laurent Mekies juga menyebut penampilan Hadjar di Belgia sebagai balapan terbaiknya bersama tim sejauh ini.
Perhatian media internasional turut tertuju pada karakter balapan yang sangat dipengaruhi pengelolaan energi listrik. De Telegraaf menyebut Grand Prix Belgia sebagai “Battle of the Batteries” karena peluang menyalip banyak ditentukan oleh jumlah energi yang tersedia untuk digunakan. Kondisi tersebut kembali memunculkan ketidakpuasan terhadap unit tenaga baru, terutama di Spa-Francorchamps yang secara tradisional menuntut kecepatan tinggi dan efektivitas tenaga pada lintasan lurus.
Racing Bulls juga mendapat peringatan setelah Liam Lawson dan Arvid Lindblad hampir bersenggolan pada lap pembuka. New Zealand Herald menilai tim perlu melakukan intervensi setelah muncul tiga titik ketegangan dalam tiga balapan terakhir. Dengan kedua pembalap sama-sama berusaha menarik perhatian struktur senior Red Bull, tim dinilai harus memastikan persaingan internal tidak berakhir dengan insiden yang menghilangkan poin konstruktor.
Bagi Russell, fokus utama menjelang putaran berikutnya adalah menemukan penyebab keterbatasan unit tenaga sekaligus menghentikan rangkaian hasil tanpa poin. Tanpa pemulihan teknis dan performa yang cepat, keunggulan Antonelli berpotensi terus bertambah dan mengubah persaingan internal Mercedes menjadi tantangan yang semakin berat pada paruh kedua musim.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!