Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem berupaya untuk menghadirkan kembali mesin V8 beserta raungan ikoniknya satu tahun lebih awal dari jadwal semula ke ajang Formula 1. Namun, rencana ambisius ini memerlukan dukungan penuh dari para pabrikan agar transisi menuju regulasi baru tersebut dapat dipercepat pada musim 2030 mendatang.
Wacana perubahan besar pada sektor mesin ini muncul tidak lama setelah regulasi unit daya terbaru diperkenalkan. Aturan pembagian tenaga yang berlaku saat ini kerap menuai kritik tajam dari para pembalap maupun penggemar setia, sehingga memicu diskusi berkelanjutan di paddock mengenai siklus mesin masa depan ajang balap jet darat ini.
Sejak regulasi anyar diterapkan, para pembalap terpaksa mengubah gaya membalap mereka secara drastis demi mengelola penyaluran energi listrik. Peran tenaga listrik kini menjadi faktor sentral dalam pertarungan jarak dekat di lintasan, meskipun para pengkritik menilai sensasi balapan telah menjadi terlalu artifisial.

Sebagai respons atas penolakan terhadap rasio tenaga listrik dan termal yang dinilai kurang ideal, otoritas tertinggi balap mobil dunia tersebut sebelumnya telah menyetujui penyesuaian rasio hibrida. Perubahan tersebut dijadwalkan berlangsung secara bertahap pada tahun-tahun mendatang sebelum wacana mesin V8 mengemuka.
Berbicara di sela-sela pengumuman resmi Grand Prix Rwanda, Ben Sulayem menegaskan bahwa kesepakatan ini harus tercapai. "Itu akan disetujui, karena jika tidak ada V8, mungkin akan ada V16 jika mereka tidak mau mengambil V8, dan mereka mengetahuinya," ujar petinggi asal Uni Emirat Arab tersebut.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!