Teemu Suninen kembali merasakan sensasi yang sudah akrab baginya: berpacu dengan waktu, berganti mobil, dan menembus batas fisik demi satu tujuan—membuktikan dirinya layak kembali ke kelas utama WRC. Pekan lalu mungkin menjadi jeda singkat, tetapi Juli lalu adalah ujian sesungguhnya bagi pebalap Finlandia itu.
Jadwal gila itu dimulai dari Rally di Roma Capitale di akhir pekan pertama Juli. Dua pekan kemudian, ia sudah berada di Rally Estonia. Seminggu setelahnya, Suninen terbang ke Polandia untuk putaran ERC, lalu langsung melesat ke Finlandia untuk WRC2. Dalam tiga pekan, tiga reli berbeda. Pekan ini, ia kembali beraksi di Barum Rally Zlin.
Yang membuatnya luar biasa, Suninen finis kedua di Roma, Estonia, dan Finlandia, serta menang di Polandia—semua dengan berganti co-driver, berganti mobil (Skoda di atas Pirelli dan Toyota di atas Hankook), dan berganti kondisi trek. “Saya punya pekan yang sangat panjang dari reli ke reli, melompat dari mobil ke mobil, dan masih bisa menjaga performa sampai akhir,” ujarnya kepada DirtFish. “Bahkan di beberapa titik saya mulai merasakan lelah di tubuh. Tapi ya, saya pikir kami melakukan pekerjaan yang luar biasa.”

Empat reli dalam lima pekan memang menguras fisik dan mental. Namun, Suninen dengan senang hati membayar harga itu demi reputasi yang ia bangun. Setelah absen sepanjang 2025 akibat musim 2024 yang buruk bersama Hyundai i20 N Rally2, namanya kini kembali mencuat di daftar buruan pabrikan untuk 2027—terlebih ia pernah naik podium di WRC.
“Itulah tujuan saya sekarang,” aku Suninen. “Tujuan utama saya adalah bekerja dengan tim yang tepat yang ingin mengembangkan mobil masa depan yang bagus, karena saya merasa punya kemampuan bagus untuk mengembangkan mobil mereka. Saya punya pengalaman dari setiap mobil di grid sekarang, tahu kelebihan dan kekurangannya, dan semoga kami mendapat kursi.”
Menjuarai kejuaraan bukan satu-satunya cara membuktikan diri, tapi tentu tidak merugikan. Setelah empat dari tujuh putaran, Suninen memimpin klasemen ERC dengan keunggulan 23 poin atas Andrea Mabellini. Di WRC2, situasinya lebih rumit—bukan hanya karena rival Robert Virves menang empat kali beruntun, tetapi juga karena anggaran untuk memperpanjang program belum sepenuhnya aman.
“Cukup menantang untuk mencari dana,” jelasnya. “Tapi semoga hasil bagus ini menunjukkan bahwa saya salah satu pebalap tercepat di mobil Rally2, bisa mengelola aspal dan gravel, bahkan mobil berbeda. Jadi bukan masalah besar bagi saya untuk berpindah-pindah mobil.”



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!