Formula 1, Sportrik Media - Max Verstappen dinilai sebagai pembalap yang paling siap menghadapi tantangan regulasi teknis Formula 1 2026, yang secara luas disebut sebagai perubahan terbesar dalam sejarah kejuaraan dunia. Penilaian tersebut disampaikan mantan pembalap Formula 1 Riccardo Patrese, yang menyoroti kompleksitas sistem power unit generasi baru.
Regulasi 2026 membawa perombakan menyeluruh pada teknologi mobil Formula 1, dengan perubahan paling signifikan terletak pada pembagian tenaga yang kini terdiri dari 50 persen tenaga listrik dan 50 persen mesin pembakaran internal. Struktur ini mengubah secara fundamental cara mobil dikendarai, dikelola, dan diprogram sepanjang satu lap balapan.
Dengan peningkatan peran sistem listrik, pembalap kini dituntut untuk mengelola berbagai mode tenaga secara aktif melalui setelan di setir. Fitur seperti boost mode dan overtake mode menjadi bagian integral dari strategi balapan, menambah kompleksitas teknis sekaligus meningkatkan beban kognitif pembalap selama berada di lintasan.
Menurut Patrese, kompleksitas inilah yang justru membuat Verstappen menjadi kandidat terkuat untuk beradaptasi paling cepat. Pembalap Red Bull Racing tersebut dikenal memiliki keterlibatan tinggi dalam simulasi, serta kemampuan alami dalam memahami dan menyesuaikan berbagai parameter teknis secara real time.
“Max Verstappen jelas merupakan pembalap yang paling cocok untuk beradaptasi dengan regulasi baru,” ujar Patrese dalam pernyataannya. “Dia benar-benar berada di rumahnya dalam lingkungan seperti ini. Dia selalu berada di simulator dan bekerja sangat baik dengan semua tombol di setir.”
Patrese menambahkan bahwa meski Verstappen bukan satu-satunya pembalap yang memiliki kemampuan tersebut, keunggulannya terletak pada kombinasi pengalaman, kecepatan adaptasi, dan pemahaman teknis yang mendalam. Generasi pembalap modern memang terbiasa dengan sistem kompleks, namun tidak semuanya mampu menggunakannya secara konsisten di bawah tekanan balapan.
“Dia memang bukan satu-satunya. Generasi pembalap sekarang tahu bagaimana melakukan hal ini,” lanjut Patrese. “Tetapi peran tim menjadi sangat penting, karena merekalah yang harus memberi tahu pembalap bagaimana menggunakan semua tombol ini secara optimal.”
Patrese juga menyoroti bahwa dalam satu lap balapan, pembalap akan menghadapi berbagai fase penggunaan tenaga yang berbeda. Dari fase tenaga penuh, transisi ke fase listrik yang menurun, hingga situasi di mana hanya mesin pembakaran internal yang bekerja, semua harus dikelola secara presisi dalam hitungan detik.
Menurutnya, kompleksitas tersebut membuat Formula 1 semakin sulit dipahami oleh penonton umum. Ia bahkan menyebut bahwa jika sebelumnya Formula 1 sudah tergolong rumit untuk dipahami, maka regulasi baru ini menggandakan tingkat kesulitannya.
“Satu hal yang pasti, jika sebelumnya Formula 1 sudah sulit dipahami oleh orang biasa, sekarang menjadi dua kali lebih rumit,” kata Patrese. “Terus terang, saya tidak menyukai semuanya, karena terkadang bagi penonton awam hampir mustahil memahami apa yang sebenarnya terjadi.”
Meski demikian, dari sudut pandang kompetitif, regulasi ini berpotensi memperbesar peran pembalap dibanding era sebelumnya. Kemampuan membaca situasi, mengatur energi, dan mengeksekusi strategi teknis di tengah balapan dapat menjadi pembeda utama antara pembalap papan atas dan yang lainnya.
Dalam konteks tersebut, Verstappen dinilai memiliki keunggulan struktural. Selain pengalaman panjang di Formula 1, ia juga dikenal memiliki latar belakang simulasi yang kuat, dengan keterlibatan intens dalam pengembangan setelan virtual yang semakin mendekati kondisi nyata lintasan.
Red Bull Racing sendiri memasuki era 2026 dengan ambisi mempertahankan posisi sebagai tim terdepan, di tengah tantangan regulasi baru yang menyamakan kembali titik awal seluruh tim. Kemampuan Verstappen dalam menguasai sistem kompleks sejak fase awal dipandang sebagai aset strategis utama dalam pertarungan gelar.
Dengan regulasi yang menuntut keseimbangan antara kecerdasan teknis, ketahanan mental, dan kecepatan murni, Formula 1 2026 diperkirakan akan menjadi ajang pembuktian bagi pembalap yang mampu berpikir secepat mereka mengemudi. Dalam pandangan Patrese, Verstappen berada di posisi ideal untuk menguasai tantangan tersebut.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!