Fabio Quartararo tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Pembalap Yamaha itu mengaku akan “marah besar” jika terus dikalahkan oleh rekan setimnya, menanggapi kesulitan yang tengah dialami Pecco Bagnaia di MotoGP 2026. Pernyataan ini muncul menjelang Grand Prix Austria, di mana Bagnaia datang dengan tiga DNF berturut-turut pada hari Minggu.
Bagnaia, juara dunia MotoGP dua kali, masih bergulat dengan masalah grip belakang pada Desmosedici miliknya. Sementara itu, rekan setimnya di Ducati, Marc Marquez, justru tampil gemilang dengan meraih kemenangan kelima musim ini meski belum sepenuhnya fit. Marquez kini memimpin klasemen pembalap, meninggalkan Bagnaia yang tertinggal jauh.
Ketika ditanya apakah ada kesamaan antara kesulitannya di Yamaha dengan yang dialami Bagnaia, Quartararo menjawab tegas: “Tidak, karena Marc sedang menang. Jika Alex [Rins], Jack [Miller], atau Toprak [Razgatlioglu] yang menang, saya sendiri akan berada dalam situasi buruk. Tapi itu tergantung banyak hal. Pada akhirnya, saya tidak tahu hubungan antara Pecco dan Ducati, bagaimana mereka. Tapi dalam posisi pribadi saya—bukan opini—jika saya di sana dan rekan setim saya menang, saya akan marah besar dan berusaha memahami mengapa saya tidak bisa melakukannya.”

Pernyataan ini muncul setelah Bagnaia tertangkap kamera DAZN mengeluh bahwa Ducati “tidak mengizinkannya” mencoba setelan motor yang lebih standar. Bagnaia kemudian mengecam DAZN karena menayangkan klip tersebut dan mengklaim ucapannya di luar konteks. Quartararo sendiri mengaku tidak melihat klip itu, tetapi ia menegaskan bahwa ia selalu menyampaikan keluhannya langsung ke Yamaha. “Pertama, saya tidak melihat percakapan itu, karena saat di rumah saya mencoba menghindari segala hal terkait motor,” tambahnya. “Dan pada akhirnya, jika saya ingin mengatakan hal-hal yang benar-benar pribadi, saya tidak mengatakannya kepada pembalap lain. Saya mengatakannya kepada orang-orang saya, tapi saya rasa itu tidak terlalu pribadi. Jika saya perlu mengatakan sesuatu agar saya lebih baik, saya katakan langsung ke crew chief saya atau ke orang-orang Yamaha. Saya tidak perlu bersembunyi. Jadi, tentu saja, jika itu percakapan yang cukup standar. Selalu ada seseorang, karena mereka lebih suka momen buruk untuk jurnalis, daripada momen baik.”
Quartararo sendiri sedang tidak dalam posisi ideal. Baru-baru ini ia meluapkan frustrasinya kepada media Prancis, mengatakan tidak akan lagi membantu Yamaha mengembangkan motor karena tim tidak mengizinkannya menguji ban Pirelli pada Senin di Austria. Ia kemudian mengakui bahwa komentarnya bisa lebih dipikirkan matang. Situasi ini mencerminkan tekanan yang dihadapi pembalap top ketika hasil tidak sesuai ekspektasi, terutama ketika rekan setim tampil lebih baik.
Bagnaia dan Ducati kini berada di bawah sorotan tajam. Tiga DNF beruntun membuat peluang juara semakin tipis, sementara Marquez terus menjauh. Masalah grip belakang yang dialami Bagnaia bukan sekadar isu teknis, tetapi juga psikologis. Tekanan untuk tampil setara dengan Marquez bisa memengaruhi pengambilan keputusan di lintasan. Ducati pun dituntut untuk segera menemukan solusi agar Bagnaia bisa kembali kompetitif.
Di sisi lain, Quartararo menunjukkan bahwa keterbukaan dengan tim adalah kunci. Ia tidak segan mengkritik Yamaha secara langsung, namun tetap dalam koridor profesional. Pernyataannya tentang Bagnaia bisa jadi cerminan betapa sulitnya berada di posisi pembalap yang kalah dari rekan setim. MotoGP bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga mental dan hubungan internal tim. Bagaimana Bagnaia dan Ducati mengatasi ini akan menentukan sisa musim mereka.




Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!