Quartararo Akui 'Kehilangan Segalanya' di Portugal: Batas Yamaha Terungkap?

Quartararo Akui 'Kehilangan Segalanya' di Portugal: Batas Yamaha Terungkap?
© Michelin

MotoGP, Sportrik Media – Fabio Quartararo dari Yamaha Factory Racing meraih finis keenam yang diperjuangkan keras pada Grand Prix Portugal 2025, hasil yang mencerminkan batasan maksimal motor M1-nya di tengah tantangan ban dan setup. Pembalap Prancis berusia 26 tahun ini berhasil mengonversi posisi start menjadi keempat yang nyaman di sprint race, tetapi di balapan utama ia harus bertarung sengit melawan Fermin Aldeguer dari Gresini Ducati, Brad Binder dari Red Bull KTM Factory Racing, dan Johann Zarco dari Prima Pramac Racing. Meskipun tak mampu menahan Aldeguer dan Binder, Quartararo berhasil mempertahankan keenam hingga garis finis, menegaskan ketangguhannya di Sirkuit Portimao.

 

Performa Quartararo sepanjang 25 lap balapan utama menunjukkan pendekatan agresif sejak lap pertama, meskipun ia mengakui kurangnya manajemen ban yang optimal. "Saya mendorong dari lap satu hingga akhir, tentu saja dengan mempertimbangkan agar tidak membakar ban," ujarnya. "Tapi saya juga tidak sepenuhnya mengelola ban tersebut. 

 

Ini sulit, tapi saya pikir kami sudah melakukan pekerjaan hebat. Ini adalah maksimum yang bisa kami capai dengan apa yang kami miliki. Kami sedang bekerja keras untuk perbaikan. Saya pikir bagus bisa mengubah Jumat yang buruk menjadi hasil yang bisa diterima di Sabtu dan Minggu. Kami kehilangan top speed, stabilitas, grip, dan tentu saja, elektronik. Sedikit dari segalanya yang bisa membuatnya lebih baik." Pengakuan ini menggarisbawahi defisit kompetitif Yamaha dibandingkan Ducati dan KTM, di mana kelemahan elektronik dan aerodinamika menghambat akselerasi di sektor lurus Portimao.

 

ADVERTISEMENT

Analisis mendalam mengungkapkan bahwa absennya Raul Fernandez akibat crash di FP1 justru mengamankan posisi Quartararo di top sembilan klasemen pembalap dengan satu ronde tersisa, unggul lima poin atas Aldeguer sebagai rookie of the year. Namun, peluang naik ke ketujuh masih tipis dengan defisit 29 poin terhadap Franco Morbidelli dari VR46 Racing Team. Dibandingkan musim 2022 di mana ia finis runner-up di belakang Pecco Bagnaia dari Ducati Lenovo Team, posisi ini menjadi pencapaian terbaik Quartararo sejak era dominasi Ducati. Strategi tim Yamaha di bawah Massimo Meregalli fokus pada data telemetry untuk mengatasi isu grip basah, yang terbukti efektif di sprint race tetapi kurang di grand prix panjang. Selain itu, kontribusi Yamaha Motor dalam pengembangan mesin crossplane semakin krusial menjelang regulasi 2027.

 

Dalam konteks lebih luas, hasil Portugal ini menyoroti ketahanan Quartararo sebagai aset utama Yamaha, meskipun motor M1 masih tertinggal dalam hal top speed dan stabilitas dibandingkan rival. Pertarungan sengit dengan Aldeguer, yang bangkit dari posisi 11, dan Binder menunjukkan kemampuan defensif Quartararo di tikungan, tetapi kelemahan elektronik mencegah overtaking efektif. Dibandingkan dengan Johann Zarco, yang juga kesulitan dengan setup Pramac, Quartararo lebih unggul dalam manajemen race craft, meskipun finis keduanya kalah tipis. 

 

Tim pabrikan Jepang kini mengarahkan sumber daya untuk Valencia, di mana trek Ricardo Tormo bisa lebih menguntungkan Yamaha berkat sektor teknisnya.

Secara keseluruhan, akhir pekan di Portugal menjadi bukti kerja keras tim untuk mengubah kualifikasi buruk menjadi poin solid, meskipun Quartararo "kehilangan sedikit dari segalanya." Prospek musim 2026 cerah jika perbaikan elektronik terealisasi, memungkinkan ia bersaing podium lagi. Dengan Valencia 14-16 November 2025 sebagai penutup, Quartararo berpeluang mengunci top sembilan dan membangun momentum. Untuk pembaruan terkini, kunjungi Sportrik.com.

Discussion (0)

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

Live Commentary / Indonesia Live Coverage

LIVE NOW

WRC 2026, Analisis & Rumor Hangat

WATCH LIVE
RECOMMENDED FOR YOU