Juha Kankkunen, legenda reli Finlandia, ternyata punya insting yang tajam soal siapa yang akan bersinar di Rally Chile. Mantan juara dunia empat kali itu sebelumnya memprediksi bahwa Oliver Solberg akan menjadi ancaman serius, dan prediksi itu terbukti tepat ketika pembalap muda Swedia tersebut mengklaim kemenangan dominan di ajang tersebut.
Rally Chile menjadi momen bersejarah bagi Toyota. Tim pabrikan Jepang itu berhasil mengunci gelar juara konstruktor untuk kesepuluh kalinya setelah finis satu-dua, menyamai rekor Lancia. Namun, kemenangan itu tidak lepas dari drama yang menimpa pemimpin klasemen Elfyn Evans, yang mengalami puncture pada stage kedua terakhir dan terpuruk dari posisi kedua ke kelima.
Kankkunen, yang merupakan mentor Solberg, mengaku prihatin dengan nasib Evans, tetapi ia menegaskan bahwa insiden seperti itu di luar kendali pembalap. Ia justru memuji keputusan penyelenggara yang memberikan alokasi ban lebih banyak dari biasanya—36 ban, bukan 28—sebagai langkah cerdas.

"Sejujurnya, perubahan alokasi ban sangat membantu. Itu keputusan terbaik yang pernah mereka buat," ujar Kankkunen. "Semua orang senang dengan itu, karena jika Anda mengalami 50 puncture seperti di Paraguay, hasil balapan tidak seharusnya ditentukan seperti itu. Urutan harus ditentukan oleh driving dan pertarungan antar pembalap. Itu selalu cara terbaik."
Kankkunen mengungkapkan bahwa ia sering memiliki firasat sebelum reli dimulai tentang siapa yang akan kuat. "Saya selalu punya semacam perasaan. Sebelum reli, ketika saya berbicara dengan semua orang, Anda bisa merasakannya. Saya telah berada di situasi yang sama berkali-kali, jadi saya bisa merasakan siapa yang terkuat di reli tertentu."
Di Chile, ia memiliki dua favorit kuat: Solberg dan Sebastien Ogier. Solberg akhirnya meraih kemenangan jelas, sementara Ogier naik ke posisi kedua setelah Evans mengalami puncture. "Saya tahu bahwa jika Oliver tetap di lintasan, dia pasti tidak akan lambat. Saya telah berbicara dengannya selama berbulan-bulan. Saya juga mempertimbangkan posisi startnya yang cukup baik, begitu pula Seb," jelas Kankkunen.
"Jadi mereka berdua yang terutama ada dalam pikiran saya. Seb memiliki posisi start terbaik, terutama jika kondisi kering. Tapi karena basah, itu memberi keuntungan bagi Elfyn dan membuat segalanya sedikit lebih setara."
Kemenangan Solberg di Chile tidak hanya membuktikan ketajaman prediksi Kankkunen, tetapi juga menegaskan potensi besar pembalap muda itu di panggung WRC. Sementara itu, Toyota telah menorehkan sejarah dengan gelar konstruktor ke-10, menyamai pencapaian Lancia, dan masih berpeluang menambah koleksi trofi di sisa musim.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!