Formula 1, Sportrik Media – Oscar Piastri menolak anggapan bahwa kesalahan strategi McLaren pada Grand Prix Qatar 2025 merupakan "bencana", meskipun mengakui rasa sakit mendalam atas hilangnya kemenangan potensial yang membuatnya tertinggal 16 poin dari pemimpin klasemen Lando Norris menjelang final di Abu Dhabi.
Pembalap Australia berusia 24 tahun itu mendominasi akhir pekan di Sirkuit Lusail International Circuit, meraih pole position dan memimpin lap awal dengan nyaman. Namun, saat safety car dikeluarkan pada lap ketujuh akibat kecelakaan Nico Hulkenberg, McLaren memutuskan untuk tidak memanggil Piastri maupun Norris ke pit lane. Keputusan ini bertentangan dengan hampir seluruh grid, yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk menyelesaikan pit stop pertama dari dua stop wajib akibat batas stint ban 25 lap dari Pirelli.
Akibatnya, Piastri kehilangan kendali balapan setelah kedua pit stopnya di kondisi hijau, finis kedua di belakang Max Verstappen dari Red Bull Racing dengan selisih hampir delapan detik. Saat menyadari situasi, Piastri berkata: "Ya, saat saya diberi tahu bahwa semua orang sudah pit kecuali saya, Lando, dan Ocon, lalu Ocon pit di lap berikutnya, saya tahu kita dalam masalah." Analisis mendalam menunjukkan bahwa degradasi ban rendah di Lusail memperburuk dampak, karena strategi alternatif McLaren gagal memprediksi pit massal lawan, merugikan kecepatan superior MCL39 sepanjang sesi.
McLaren, melalui CEO Zak Brown dan kepala tim Andrea Stella, meminta maaf atas blunder yang disebut "keputusan salah" karena tidak mengantisipasi reaksi rival. "Kami membuat keputusan salah karena mengira itu benar, bukan karena khawatir soal fairness," ujar Stella. Kesalahan ini menciptakan pergeseran 14 poin, dengan Norris unggul 12 poin atas Verstappen dan 16 poin atas Piastri di klasemen—membuat Abu Dhabi menjadi pertarungan tiga arah pertama sejak 2010.
Meski finis keempat, Qatar menandai kembalinya Piastri ke performa puncak setelah beberapa balapan buruk, yang membuat kehilangan kemenangan semakin menyakitkan. "Secara pribadi, ini lebih menyakitkan daripada diskualifikasi di Las Vegas," katanya, merujuk pada insiden ganda McLaren pekan sebelumnya di mana ia kehilangan P4. Ia menekankan bahwa blunder ini bukan akhir dunia, melainkan pelajaran untuk tumbuh lebih kuat.
Menanggapi label "catastrophe", Piastri tegas membantah. "Saya tidak pikir itu bencana. Jelas kita membuat keputusan salah, tapi bukan berarti dunia runtuh. Tentu saja, saat ini menyakitkan, tapi dengan waktu, semuanya akan membaik. Ada banyak momen sulit tahun ini dan musim sebelumnya, dan kita selalu jadi lebih kuat melewatinya. Tapi semuanya tergantung bagaimana kita hadapi. Saya yakin kita akan lewati ini." Opini di X mencerminkan dukungan penggemar, dengan postingan seperti "Piastri's resilience is key to Abu Dhabi" yang viral, meskipun beberapa menyalahkan 'papaya rules' McLaren atas keputusan seragam.
Dari perspektif klasemen, tugas Piastri di Yas Marina berat: Ia butuh kemenangan dan kegagalan Norris untuk merebut gelar, sementara Verstappen cukup finis ketiga jika Norris gagal. Perbandingan dengan rival seperti Ferrari, yang memposisikan Carlos Sainz di podium, menyoroti keunggulan adaptasi strategi di bawah safety car. Strategi split—memanggil hanya Piastri—mungkin telah menjaga posisinya, tapi McLaren prioritaskan hasil tim secara keseluruhan.
Meskipun demikian, Piastri tetap optimis. "Ini akhir pekan bagus secara keseluruhan. Pace sangat kuat, tapi sulit ditelan saat ini. Saya akan coba kendarai seperti ini, taruh diri di posisi terbaik, dan lihat apa yang terjadi." Dengan kecepatan MCL39 yang terbukti, ia punya peluang membalikkan keadaan di balapan penentu. Blunder Qatar menjadi pengingat akan ketahanan, memperkaya narasi akhir musim F1 2025. Pantau terus update di Sportrik.com.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!