Pada Agustus 2001, keputusan politik Eddie Jordan membuat Heinz-Harald Frentzen kehilangan kursi Formula 1. Padahal, dua tahun sebelumnya, Frentzen sempat menjadi penantang gelar yang tak terduga. Kariernya tak pernah pulih setelah dipecat secara kejam, dan keputusan itu kini diakui Jordan sebagai kesalahan terbesarnya.
Jordan, yang dikenal sebagai penguasa tim privat terakhir di F1, selalu mengutamakan kelangsungan timnya. Ia tak segan mengambil keputusan dingin demi menjaga hubungan baik dengan pemasok mesin. Hubungannya dengan Frentzen awalnya solid, bahkan Jordan menyebutnya sebagai pembalap yang "sangat cepat" dan "sangat baik". Namun, politik F1 yang kejam ikut campur.
Honda, yang memasok mesin ke Jordan pada 2001, menginginkan Takuma Sato masuk ke F1. Tekanan pun muncul, dan Frentzen yang seharusnya aman justru menjadi korban. Jordan, dalam wawancara 2025 di podcast Formula for Success, mengaku menyesal: "Saya melakukan kesalahan besar. Saya seharusnya punya nyali lebih besar dan tidak memecatnya."

Keputusan itu kontroversial karena Frentzen adalah pemenang balapan dan mantan penantang gelar. Ia digantikan Ricardo Zonta yang hanya mencetak tiga poin. Jordan kemudian mengakui bahwa Honda berperan besar dalam pemecatan tersebut, demi memberi tempat bagi Sato pada 2002.
Dampaknya justru buruk bagi Jordan. Tim tetap berada di posisi keenam klasemen, dan Honda akhirnya hengkang setelah musim 2002. Jordan pun terpuruk dengan mesin Ford yang tidak kompetitif, sebelum akhirnya dijual pada 2004. Sementara itu, Frentzen pindah ke Prost, lalu Arrows, dan kembali ke Sauber sebelum pensiun.
Kisah ini menjadi pelajaran betapa kejamnya F1. Tidak ada pemenang dari perceraian Frentzen dan Jordan; dua ikon tim kecil justru saling menghancurkan. Bagi penggemar, ini adalah babak kelam yang tak terlupakan dalam sejarah olahraga ini.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!