Formula 1, Sportrik Media - Liam Lawson menghadapi salah satu fase paling sulit dalam kariernya di Formula 1 ketika dipromosikan ke Oracle Red Bull Racing pada awal musim 2025, sebelum akhirnya dicoret hanya dalam dua balapan akibat keputusan manajemen yang dipimpin Helmut Marko.
Promosi Lawson ke tim utama datang dalam kondisi pengalaman yang terbatas, dengan hanya 11 start Grand Prix sebelumnya. Keputusan tersebut sejak awal dinilai berisiko, terutama mengingat tekanan internal Red Bull yang dikenal memiliki pendekatan keras terhadap pembalap muda. Setelah dua penampilan yang dinilai belum memenuhi ekspektasi, Lawson langsung digantikan oleh Yuki Tsunoda, mencerminkan kebijakan agresif tim dalam menjaga performa kompetitif.
Kembalinya Lawson ke Visa Cash App RB menjadi titik penting dalam pemulihan performanya. Meski awalnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali, pembalap asal Selandia Baru tersebut secara bertahap menemukan ritme balapnya. Ia menutup musim dengan total 38 poin, hanya terpaut 13 poin dari rekan setimnya, Isack Hadjar, yang kemudian dipromosikan ke tim utama Red Bull untuk musim 2026.

Analisis dari mantan pembalap F1, Jolyon Palmer, menyoroti bahwa pendekatan langsung dan tanpa kompromi dari Marko memberikan dampak signifikan terhadap Lawson. Dalam konteks pengembangan pembalap muda, metode tersebut memang terbukti menghasilkan juara dunia, namun tidak semua pembalap mampu beradaptasi dengan tekanan tersebut dalam waktu singkat.
"Saya pikir dia adalah figur besar yang bisa sangat keras terhadap pembalap muda, dan itu bisa menguntungkan mereka yang mampu berkembang hingga menjadi juara dunia," ujar Palmer dalam podcast F1 Nation.
"Namun Liam jelas merasakan tekanan tersebut tahun lalu, dan itu juga menunjukkan ketahanan mental yang dia miliki. Dia adalah pembalap yang tangguh."
Palmer juga menekankan bahwa karakter agresif Lawson di lintasan menjadi salah satu kekuatan utamanya. Gaya balap wheel-to-wheel yang berani, serta ketidaktakutan dalam duel langsung, menjadi ciri khas yang membantu proses adaptasinya, meskipun hasil tidak datang secara instan.
Lebih lanjut, performa Lawson di awal musim 2026 menunjukkan indikasi stabilisasi, terutama setelah penampilan kompetitif di China yang menghasilkan poin baik di Sprint maupun Grand Prix. Situasi ini dianggap penting untuk membangun kembali kepercayaan diri setelah periode sulit bersama Red Bull.
"Sangat mudah baginya untuk merasa tertekan dengan kehadiran pembalap muda lain yang mendapat sorotan, tetapi dia merespons dengan baik di China. Itu akan membantunya lebih stabil sepanjang musim ini."
Ke depan, dinamika dalam struktur junior Red Bull tetap menjadi faktor krusial dalam menentukan arah karier Lawson. Dengan Marko mulai mengurangi perannya menjelang musim 2026, pendekatan terhadap pembalap muda berpotensi mengalami perubahan, yang dapat membuka peluang lebih besar bagi Lawson untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Momentum yang ia bangun sejak akhir 2025 hingga awal 2026 kini menjadi fondasi penting, terutama menjelang rangkaian balapan berikutnya yang akan menjadi indikator konsistensi performanya dalam persaingan ketat Formula 1 modern.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!