Formula 1, Sportrik Media - Lando Norris akhirnya meraih gelar juara dunia Formula 1 2025 setelah finis ketiga di Grand Prix Abu Dhabi, mengalahkan Max Verstappen dengan selisih hanya dua poin. Kemenangan ini menandai kebangkitan McLaren sebagai tim unggulan, di mana Norris unggul 423 poin dibandingkan 421 poin milik Max Verstappen dari Red Bull Racing. Selain itu, rekan setimnya Oscar Piastri finis kedua di balapan penutup, meski tertinggal 13 poin di klasemen akhir.
Musim 2025 menjadi perpaduan strategi brilian dan ketahanan mental bagi Norris, yang memulai tahun dengan kemenangan di Australia namun sempat tertinggal hingga 34 poin dari Piastri di paruh musim. Namun, comeback Norris di enam balapan terakhir, termasuk kemenangan di Meksiko dan Brasil, membalikkan keadaan. Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa upgrade aerodinamis McLaren di GP Miami memberikan keunggulan lap time rata-rata 0,2 detik dibandingkan Red Bull, memungkinkan Norris mengumpulkan 14 podium sepanjang musim.
Dalam balapan Abu Dhabi yang penuh tekanan, Norris memulai dari posisi kedua dan kehilangan satu tempat ke Piastri di lap pembuka. Meski demikian, ia bertahan dari serangan Charles Leclerc dari Scuderia Ferrari, finis dengan selisih 16,572 detik dari pemenang Verstappen. Strategi dua pit stop McLaren terbukti krusial, menghindari ban aus di trek Yas Marina yang panas. Dampaknya, McLaren meraih gelar konstruktur kedua berturut-turut, mengungguli Red Bull dengan 50 poin.
Norris juga membuka diri soal penyesalan atas komentar masa lalu terhadap rival-rivalnya. "Saya tahu kadang saya mengatakan hal-hal bodoh," ujar Norris kepada media, termasuk RacingNews365. Ia merujuk pada pernyataan kontroversial di GP Hungaria 2024 tentang Lewis Hamilton, di mana ia menyindir pencapaian tujuh gelar juara Hamilton. "Beberapa hal saya sesali dan ingin tarik kembali," tambahnya. Analisis ini menyoroti evolusi Norris sebagai pembalap matang, yang kini lebih menghargai prestasi Andrea Stella sebagai prinsipal McLaren.
Kutipan lengkap Norris menekankan rasa hormatnya: "Saya beri lebih banyak respek kepada siapa pun daripada yang diberikan orang lain. Saya respek Oscar, Max, dan terutama Lewis—dia juara dunia tujuh kali, pembalap terbaik sepanjang masa di Formula 1, dibandingkan Schumacher." Pernyataan ini tidak hanya meredam kritik masa lalu, tapi juga memperkuat citra Norris sebagai pemimpin generasi baru. Dibandingkan dengan Hamilton, yang memenangkan gelar pertamanya di usia 23 tahun, Norris di usia 26 tahun menunjukkan pendekatan lebih hati-hati, meski masih jauh dari target tujuh gelar.
Dari perspektif tim, keberhasilan ini mengonfirmasi visi Zak Brown sebagai CEO McLaren, yang merekrut Norris sejak 2017. Namun, tantangan internal muncul dari dinamika dengan Piastri, yang memenangkan tujuh balapan musim ini. Prospek 2026? Dengan regulasi baru pada power unit, McLaren berpotensi mendominasi lagi, asal menjaga harmoni internal. Sementara itu, Verstappen kemungkinan akan balas dendam dengan strategi Red Bull yang lebih agresif.
Secara keseluruhan, kemenangan Norris bukan hanya soal poin, tapi transformasi McLaren dari tim midfield menjadi powerhouse. Ia mengakhiri dominasi Verstappen selama empat tahun, membuka era baru di Formula 1. Harapan ke depan, Norris bisa mempertahankan gelar sambil menginspirasi pembalap muda seperti Kimi Antonelli dari Mercedes. Ikuti update lebih lanjut di Sportrik.com.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!