WRC, Sportrik Media - Ambisi Indonesia untuk kembali menjadi tuan rumah ajang World Rally Championship (WRC) pada 2026 menghadapi tantangan berat, meskipun negara ini pernah menyukseskan event serupa pada 1996 dan 1997. Berdasarkan pengumuman terbaru FIA pada Juli 2025, kalender WRC 2026 tetap berisi 14 ronde tanpa tambahan negara baru seperti Indonesia, yang kini bergeser ke prospek 2027. Analisis mendalam menunjukkan bahwa persetujuan FIA dan prioritas strategis menjadi penghalang utama.
Pendekatan hati-hati dari FIA terhadap ekspansi kalender menjadi faktor krusial. Pada April 2025, Direktur Event WRC Simon Larkin menegaskan bahwa kontrak multi-tahun untuk Rally USA di Tennessee telah ditandatangani, tetapi menunggu lampu hijau FIA. "Kami sudah berada di tengah-tengah pembentukan kalender dan akan relatif sama dengan tahun ini," ujar Larkin saat Rally Islas Canarias. Namun, hingga pengesahan Juli 2025, hanya 14 event yang disetujui, mencakup Monte Carlo hingga Saudi Arabia, dengan penambahan seperti kembalinya Croatia Rally. Indonesia, yang termasuk dalam enam negara kandidat termasuk Irlandia dan Skotlandia, dianggap "ambisius" tapi sulit terealisasi untuk 2026 karena keterbatasan waktu.
Selain itu, tantangan organisasional dan finansial memperburuk posisi Indonesia. WRC menuntut standar keselamatan serta infrastruktur yang lebih tinggi dibandingkan level regional seperti FIA Asia Pacific Rally Championship, di mana Rally Indonesia masih rutin digelar. Larkin menekankan perlunya "strategi yang sebenarnya untuk implementasi," bukan sekadar mengejar target negara baru. Investasi promotor WRC ke proyek AS mencapai level signifikan, termasuk peralatan tambahan di luar Eropa, sementara Indonesia memerlukan diskusi lebih lanjut dengan federasi nasional. Hal ini kontras dengan sukses event seperti Safari Rally Kenya, yang telah terbukti berkelanjutan.
Analisis lebih dalam mengungkap dampak pada prospek Asia-Pasifik. Pada Agustus 2025, WRC mengonfirmasi pembicaraan dengan Indonesia, Australia, Selandia Baru, dan China untuk ronde kedua di wilayah ini mulai 2027. Penukaran jadwal Rally Japan ke Mei 2026 dirancang untuk mengakomodasi pairing event APAC di masa depan. Namun, kegagalan Rally USA masuk 2026—yang sempat diharapkan—menjadi pelajaran: prioritas diberikan pada event dengan kesiapan matang. Untuk tim balap Toyota Gazoo Racing, yang dominan di WRC, penambahan ronde Asia bisa meningkatkan kompetisi, tapi kini tertunda.
Komentar dari pakar menyoroti urgensi adaptasi. "Sekarang sudah akhir April dan kalender harus selesai Juli, harus ada sesuatu yang inovatif," tambah Larkin. Bagi brand Hyundai Motorsport, yang aktif di Asia, absennya Indonesia berarti peluang promosi hilang sementara. Sementara itu, pembalap Kalle Rovanpera dari tim Toyota tetap fokus pada gelar 2025, dengan regulasi teknis Rally1 berlanjut hingga 2026.
Dalam konteks global, keputusan FIA mencerminkan keseimbangan antara ekspansi dan kestabilan. Kalender 2026 menjaga 14 ronde di empat benua, termasuk gravel di Paraguay dan tarmac di Islas Canarias, tanpa ruang untuk inovasi mendadak. Indonesia, dengan sejarah kemenangan Carlos Sainz pada 1996-1997 menggunakan brand Ford, perlu memperkuat proposal untuk 2027, termasuk kolaborasi dengan prinsipal tim M-Sport Ford.
Secara keseluruhan, kesulitan Indonesia berakar pada timeline ketat dan prioritas FIA terhadap event mapan. Meski demikian, prospek 2027 tetap terbuka dengan negosiasi lanjutan, berpotensi membawa WRC lebih dekat ke penggemar Asia. Pantau perkembangan di Sportrik.com untuk update terkini.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!