Ketika Liam Lawson melaju di sirkuit Zandvoort akhir pekan ini, rasanya seperti deja vu. Dua tahun lalu, ia menggantikan Daniel Ricciardo yang cedera di tempat yang sama—dan kini, di GP Belanda 2026, ia kembali dipanggil untuk mengisi kursi Red Bull, kali ini menggantikan Isack Hadjar yang mengalami cedera tangan. Sebuah lingkaran yang menutup sempurna, bukan sekadar kebetulan.
Bagi Lawson, panggilan ini adalah buah dari kesabaran dan kerja keras. Promosi singkatnya ke Red Bull pada 2025 berakhir pahit setelah dua akhir pekan tanpa poin, dan ia ditukar kembali ke Racing Bulls. Namun, alih-alih tenggelam, pembalap 24 tahun itu bangkit. Di tim satelit, ia berkembang menjadi pembalap yang lebih utuh, membantu Racing Bulls finis keenam di klasemen konstruktor musim lalu.
“Saya ingin percaya bahwa dengan waktu yang cukup, saya akan bisa mengatasinya,” kata Lawson mengenang masa sulitnya di Red Bull. “Dua balapan terasa seperti mimpi buruk, tapi banyak hal terjadi tahun ini yang membuat saya lebih kuat.”

Perjalanannya memang tidak mudah. Saat Hadjar dipilih Red Bull untuk musim 2026, Lawson tetap bertahan di Racing Bulls dan kini justru unggul dalam duel kualifikasi melawan rookie Arvid Lindblad dengan skor 8-6. Konsistensi dan kecepatannya musim ini tidak luput dari perhatian.
“Dia jelas bukan orang yang sama,” ujar principal tim Racing Bulls, Alan Permane, dalam podcast Beyond the Grid. “Kami tidak membangunnya kembali, tapi kami mendukungnya. Dia bekerja keras di simulator, di lintasan, dan hasilnya terlihat. Dia sangat fokus, lebih paham mobil, dan lebih dekat dengan para insinyurnya.”
Kembalinya Lawson ke Red Bull kali ini terasa berbeda. Ia bukan lagi pembalap yang terburu-buru membuktikan diri, melainkan sosok yang lebih matang dan siap menghadapi tekanan. Jika dua tahun lalu ia hanya membalap lima kali untuk AlphaTauri, kini ia memiliki pengalaman dan ketenangan yang tidak dimilikinya sebelumnya.
GP Belanda akan menjadi ujian sesungguhnya. Bisakah Lawson memanfaatkan kesempatan kedua ini untuk mengamankan masa depannya di Red Bull? Atau akankah ini hanya menjadi babak singkat lainnya? Yang jelas, momen ini terasa seperti pembalasan yang adil—sebuah kesempatan yang pantas ia dapatkan.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!