Di tengah hingar-bingar Formula 1 Grand Prix Belgia, ada satu tenda yang mencuri perhatian: Officina Caira. Koleksi mobil bersejarah mereka bukan sekadar pajangan statis. Saat mesin V10 mulai meraung di trek Spa, waktu seolah mundur tiga dekade ke era ketika Formula 1 masih terasa liar dan penuh nyali.
Kami berkesempatan melihat langsung mobil-mobil tersebut dari dekat. Kesederhanaan garis tubuhnya, kokpit terbuka yang kini bikin petugas keselamatan pusing tujuh keliling, dan suara mesin yang menusuk—semuanya terasa begitu autentik. Di tengah F1 modern yang serbacanggih, kehadiran mobil-mobil ini seperti oase nostalgia.
Officina Caira, yang dikenal sebagai spesialis restorasi mobil balap historis, memang tengah menikmati tren naiknya pasar mobil bersejarah. Permintaan dari penggemar pun kian lantang, sejalan dengan raungan V10 yang mereka rawat dengan penuh cinta. Tapi daripada membahas Benetton atau BMW Sauber yang jelas-jelas jadi bintang, kami justru tertarik pada dua mobil yang jarang disorot: dua 'permata terlupakan' yang punya kisah menarik untuk diceritakan.

Scuderia Italia Dallara F189: Keberanian di Era 1980-an
Scuderia Italia memulai debut F1 pada 1988 dengan satu mobil. Di era ketika tim baru datang dan pergi silih berganti, tim asal Italia ini justru tampil solid: lolos kualifikasi 14 dari 16 balapan di musim pertama mereka. Ekspansi pun terjadi pada 1989 dengan dua mobil, menggaet Andrea De Cesaris untuk menemani Alex Caffi.
Dallara F189 adalah evolusi dari F188 yang dirancang oleh Mario Tolentino. Mesin Cosworth DFR V8 menggantikan DFZ yang sudah pensiun, dan kombinasi ini terbukti manjur. Bobotnya sekitar 500 kg, dan reputasinya sebagai mobil lini tengah yang andal—bukan spektakuler, tapi konsisten. Itu sudah prestasi tersendiri di grid yang dihuni 26 mobil.
De Cesaris, yang namanya identik dengan insiden, kembali menunjukkan warna aslinya di musim itu. Ia crash di Brasil, lalu menabrak rekan setimnya sendiri, Caffi, di Phoenix saat sedang dilap. Insiden itu merenggut podium Caffi. Namun, balapan berikutnya di Kanada menjadi penebusan: De Cesaris finis ketiga, podium terakhirnya di F1. Sayangnya, hasil bagus lain seperti posisi ketiga Caffi di Hungaria sia-sia karena tak ada poin tambahan. Musim itu ditutup dengan delapan poin dan posisi kesembilan di klasemen konstruktor.
F189 mewakili era F1 yang banyak dirindukan. Dulu, untuk masuk F1, Anda hanya butuh uang dan nyali. Tak peduli harus melewati pre-kualifikasi yang kejam, Anda bisa menyebut diri Anda tim F1. Sekarang? Semua serba korporat dan penuh aturan. F189 adalah antitesis dari itu semua, dan itu justru membuatnya begitu istimewa. Semoga ia terus melaju di sirkuit-sirkuit bersejarah.
Footwork Porsche A11C: Ambisi Besar yang Berujung Petaka
Kisah kedua datang dari tim Arrows yang diakuisisi oleh presiden Footwork Express, Wataru Ohashi. Nama tim berganti menjadi Footwork untuk 1991, dan ambisinya besar: membangun tim juara. Sayangnya, sejarah berkata lain.
Porsche dipilih sebagai pemasok mesin V12, dengan kontrak tiga tahun. Harapan tinggi, tapi kenyataan pahit. Mesin V12 yang besar dan berat tidak muat di sasis FA12, sehingga mereka terpaksa memakai mobil lawas A11C yang dimodifikasi. Di balapan pembuka di Brasil, mimpi buruk dimulai: Alex Caffi gagal melewati pre-kualifikasi, dan Michele Alboreto mundur karena masalah girboks. Tak satu pun mobil lolos kualifikasi.
Masalah utama ada di mesin Porsche. Bobotnya sekitar 89-220 kg—jauh lebih berat dari Ferrari atau Honda yang hanya 150-170 kg. Tenaganya pun payah: hanya sekitar 500 bhp, sementara Honda bisa mencapai 780 bhp. Dalam enam balapan pertama, mereka tak pernah melihat garis finis. Porsche bahkan meledakkan tiga mesin dalam satu sesi tes di Paul Ricard. Kontrak diakhiri lebih awal, dan Ford V8 datang sebagai penyelamat. Porsche belum pernah kembali ke F1 sejak saat itu.
Apakah mobil ini gagal? Ya, dalam segala hal. Tapi justru kegagalan itulah yang membuatnya dikenang. Di Spa, saat ia melaju di trek, suaranya mungkin tidak semengerikan V10, tapi cerita di baliknya adalah pengingat bahwa ambisi tanpa eksekusi hanyalah mimpi di siang bolong.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!