Ajang balap jet darat Formula 1 bersiap kembali menjejakkan kaki di benua Afrika setelah hampir empat dekade absen. Rwanda dipilih sebagai lokasi baru untuk menggelar grand prix yang sepenuhnya gres, menandai babak baru ekspansi global ajang balap paling bergengsi di dunia ini.
Sejarah mencatat bahwa terakhir kali Formula 1 berlaga di tanah Afrika adalah di sirkuit Kyalami pada musim 1993. Sejak saat itu, kerinduan untuk melihat kembalinya balapan di Benua Hitam terus menggema dan menjadi salah satu agenda yang paling diimpikan oleh para penggemar serta pelaku balap internasional.
Juara Dunia Formula 1 tujuh kali, Lewis Hamilton, selama ini dikenal sebagai figur paling vokal yang mendorong agar ajang ini kembali menyambangi Afrika. Berdasarkan laporan terbaru yang dilansir dari Motorsport Week, rencana konkret tersebut kini akhirnya mulai menampakkan titik terang nyata.

Kesepakatan penting dikabarkan telah tercapai di antara pihak-pihak terkait untuk menggelar balapan Formula 1 di dekat ibu kota Rwanda, Kigali. Presiden Rwanda, Paul Kagame, sebelumnya memang sangat gencar mewujudkan visi menghadirkan kembali balapan jet darat ke tanah Afrika, yang dibuktikan saat Kigali sukses menjadi tuan rumah Sidang Umum FIA dan Malam Anugerah Penganugerahan pada tahun 2024 lalu.
Karena sirkuit Kyalami di Afrika Selatan saat ini menjadi satu-satunya venue lama yang memenuhi standar, rencana di Rwanda menuntut pembangunan sirkuit permanen yang sepenuhnya baru dan modern. Desain lintasan ini kabarnya dikerjakan langsung oleh mantan pembalap Formula 1 sekaligus desainer sirkuit kenamaan, Alex Wurz, dengan lokasi di dekat Bandara Internasional Bugesera.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!