Jelang gelaran Grand Prix Indonesia, paddock MotoGP mendadak panas menyusul pengumuman resmi mengenai perombakan total format akhir pekan balapan yang akan mulai berlaku pada musim 2027 mendatang. Kebijakan anyar yang dirancang promotor ini langsung membelah opini para pembalap di grid, menciptakan kubu yang mendukung penuh demi promosi kejuaraan, namun tidak sedikit pula yang melontarkan kritik pedas karena khawatir akan lonjakan risiko cedera serta beban kerja yang semakin tak masuk akal.
Titik perdebatan paling krusial dari regulasi baru ini adalah kehadiran sesi kualifikasi terpisah yang didedikasikan khusus untuk menentukan starting grid balapan sprint. Perubahan radikal tersebut praktis mengubah ritme harian pembalap sejak hari Jumat hingga Minggu, memicu reaksi kontras dari nama-nama besar di lintasan. Dilansir dari Motorsport.com, ketegangan ini mencerminkan jurang pemisah antara sudut pandang pabrikan dan realitas fisik yang harus dihadapi para atlit di atas motor berkecepatan tinggi.
Di kubu yang menyambut baik, Francesco Bagnaia muncul sebagai salah satu pendukung utama bersama Luca Marini. Sang juara dunia dua kali asal Italia tersebut berargumen bahwa penambahan sesi kualifikasi kedua adalah sesuatu yang sudah lama diminta oleh para pembalap untuk mengakomodasi format sprint. Meski demikian, ia tetap menyayangkan dihapusnya sesi pemanasan atau warm-up hari Minggu yang menurutnya masih krusial. "Kami selalu meminta dua sesi kualifikasi. Dua start, bukan hanya satu, jadi bagi saya itu baik-baik saja," ujar Bagnaia. Ia juga menyoroti minimnya tingkat kehadiran pembalap dalam rapat Komisi Keselamatan di Motegi, yang membuat suara mayoritas sulit terkonsolidasi.

Sebaliknya, gelombang penolakan keras datang dari generasi muda yang memikirkan aspek keselamatan jangka panjang, dipimpin oleh Pedro Acosta dan Alex Marquez. Pembalap sensasional KTM tersebut secara terbuka mempertanyakan kebebasan bersuara para atlit dalam proses pembuatan regulasi. Acosta menilai bahwa tambahan sesi kompetitif di tengah tingginya angka cedera musim ini adalah keputusan yang kurang bijak. "Tidak peduli apa yang kita pikirkan, kita tidak diberi pilihan. Mereka telah memaksakannya kepada kita begitu saja, tanpa alasan," tegas Acosta dengan nada geram.
Acosta menambahkan bahwa memasukkan 22 pembalap ke dalam sesi kualifikasi 15 menit yang sarat risiko hanya akan memperparah kondisi fisik grid yang rapuh. Dengan kalender balap yang semakin padat dan tuntutan aerodinamika modern yang menguras energi, pertarungan di balik layar antara Komisi Keselamatan dan Dorna dipastikan masih akan terus berlanjut seiring persiapan menuju era baru regulasi 2027.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!