MotoGP, Sportrik Media – Pembalap Enea Bastianini mengaku tidak dapat menjelaskan alasan kesulitannya menggunakan ban soft belakang pada motor KTM RC16 sepanjang musim MotoGP 2025. Namun, hal ini menjadi faktor utama di balik performa buruknya dalam sesi kualifikasi dan sprint race.
Pembalap asal Italia tersebut bergabung dengan tim Red Bull KTM Tech3 pada 2025 setelah meninggalkan Ducati, di mana ia pernah meraih tujuh kemenangan grand prix. Selain itu, adaptasi terhadap motor Austria ini terbukti sulit sejak tes pramusim, terutama saat menggunakan ban lunak belakang.
Masalah ini terlihat jelas pada kualifikasi, di mana Enea Bastianini hanya lolos ke Q2 sebanyak empat kali dan masuk sepuluh besar grid hanya tiga kali. Namun, ketika berhasil start dari posisi baik, ia mampu tampil kompetitif, seperti podium sprint di Brno dan finis ketiga pada Grand Prix Catalunya.
Ia mengakhiri klasemen pembalap di posisi ke-14 dengan 112 poin.
“Trennya seperti ini: Hari Jumat rumit, Sabtu sedikit lebih baik, dan Minggu pada race kami kompetitif,” ungkap Bastianini.
“ Kami kompetitif karena pada race dengan ban medium, saya menemukan kepercayaan diri untuk cepat. Dengan ban soft, motor justru memberikan kebalikannya: tidak ada kepercayaan diri, saya tidak bisa push.”
ADVERTISEMENT
“Seperti ban belakang mendorong saya keluar di setiap tikungan, dan jauh lebih sulit untuk belok. Dengan medium, jauh lebih baik bagi saya untuk sliding belakang, saya lebih percaya diri, dan lap demi lap semakin percaya diri. Ini terjadi setiap kali.”
Selain itu, jadwal akhir pekan MotoGP yang padat memaksa pembalap mencapai pace kualifikasi sejak Jumat sore. Namun, Bastianini menilai format saat ini membantu pemahamannya terhadap motor.
“Terkadang sprint membantu saya cepat pada Minggu, karena jika dianalisis, selama warm-up sering kali saya cepat. Selalu sama ketika menggunakan ban race. Saat menggunakan ban sprint, yaitu soft, saya selalu di belakang dan mencoba sesuatu berbeda pada motor.”
“Tapi saat cek video, saya tidak rileks, bukan gaya saya, dan saya tidak bisa jelaskan kenapa.”
Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa kesulitan Enea Bastianini dengan ban soft tidak hanya memengaruhi starting grid, tetapi juga prospek podium secara keseluruhan. Namun, rekan setimnya di Red Bull KTM Tech3, Maverick Vinales, serta pembalap pabrikan Brad Binder dan Pedro Acosta, juga menghadapi tantangan serupa pada ban Michelin, meski tidak seekstrem Bastianini.
Di sisi lain, performa race Bastianini yang lebih baik dengan ban medium menyoroti kekuatan gaya ridingnya yang hemat ban, warisan dari era Ducati. Namun, transisi ke KTM menuntut penyesuaian signifikan, terutama pada karakteristik turning dan manajemen grip awal.
Dengan musim 2025 berakhir, Bastianini berharap jeda dua bulan dapat menjadi reset untuk menemukan solusi pada 2026. Selain itu, kontraknya dengan KTM hingga akhir 2026 memberikan stabilitas, meski tekanan meningkat untuk kembali kompetitif.
Prospek masa depan tergantung pada pengembangan motor RC16, khususnya aerodinamika dan elektronik yang lebih sesuai dengan gaya Bastianini.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!