Formula 1, Sportrik Media – Musim Formula 1 2026 menjanjikan era baru dengan regulasi teknis terbesar dalam sejarah, termasuk active aerodynamics, power unit 50/50 ICE-electric, serta masuknya Audi Revolut F1 Team dan Cadillac Formula 1 Team sebagai tim ke-11.
Regulasi baru janjikan balap lebih ketat dengan mobil lebih kecil, ringan, active aero gantikan DRS, serta Overtake Mode dan Boost Button. Apakah janji ini terealisasi? Reset besar sering ciptakan upset, seperti 2022 dengan ground effect, tapi juga keluhan awal dari pembalap.

Lando Norris juara dunia 2025 usai kalahkan Oscar Piastri tipis, dengan kontroversi team orders di McLaren Mastercard F1 Team. Babak kedua rivalitas ini potensial lebih sengit di regulasi baru, meski McLaren pertahankan Papaya Rules untuk fairness.
Lewis Hamilton alami musim debut mimpi buruk di Scuderia Ferrari HP 2025, tanpa podium dan finis keenam. Apakah 2026 jadi musim terakhirnya? Mobil baru diharapkan cocok gaya Hamilton, tapi kegagalan bisa percepat pensiun legenda tujuh kali juara.
Isack Hadjar promosi ke Oracle Red Bull Racing setelah rookie impresif 2025, gantikan Yuki Tsunoda. Tantangan besar jadi rekan Max Verstappen, meski regulasi baru beri level playing field awal.
Adrian Newey jadi team principal Aston Martin Aramco Formula One Team 2026, kombinasikan desain dengan leadership. Dengan kemitraan Honda dan investasi besar, apakah ini akhirnya bawa kemenangan?
Masuknya Audi works dan Cadillac (dengan Sergio Perez serta Valtteri Bottas) tarik powerhouse otomotif berkat regulasi power unit atraktif.
Analisis mendalam tunjukkan 2026 penuh ketidakpastian, dengan potensi shift order besar seperti era hybrid 2014. Prospek cerah bagi tim adaptif terbaik.
Kunjungi Sportrik.com untuk analisis Formula 1 terkini lainnya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!