Dani Sordo harus menerima kenyataan pahit: gelar juara Portugis 2025 miliknya dicabut oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga Portugal (TAD). Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena Sordo tampil dominan sepanjang musim dengan mengoleksi 161 poin bersama Hyundai, unggul tujuh poin atas Kris Meeke dari Toyota. Namun, TAD memutuskan bahwa gelar nasional Portugal hanya bisa diberikan kepada pembalap yang memiliki koneksi sah dengan Portugal, dan dalam hal ini, Armindo Araujo—pembalap Portugal yang finis ketiga dengan 137 poin—berhak atas gelar tersebut.
Kisruh ini bermula dari perbedaan tafsir hukum. Undang-undang Portugal menyatakan bahwa gelar nasional dalam olahraga individu hanya dapat dianugerahkan kepada atlet Portugal. Sordo, yang berasal dari Spanyol, dan Meeke, yang berasal dari Inggris, tidak memenuhi syarat tersebut. Araujo, sebagai warga negara Portugal yang tinggal di negara itu, mengajukan banding ke TAD dan memenangkannya. TAD juga menegaskan perbedaan antara memenangkan kompetisi dan meraih gelar nasional: pembalap asing bisa menang balapan dan mengumpulkan poin terbanyak, tetapi tidak otomatis menjadi juara Portugal.
Menariknya, kasus serupa pernah terjadi pada 2024. Saat itu, Meeke mengumpulkan poin terbanyak, dan TAD memutuskan bahwa ia berhak menyandang gelar Portugis. Keputusan tersebut kemudian menjadi dasar FPAK (Federasi Motorsport Portugal) untuk menobatkan Sordo sebagai juara 2025. Namun, kali ini TAD mengambil interpretasi berbeda. Mayoritas hakim berpendapat bahwa pembatasan gelar nasional hanya untuk pembalap dengan koneksi asli Portugal tidak melanggar konstitusi Portugal maupun hukum Uni Eropa. Keputusan ini tidak bulat; satu dari tiga arbiter memberikan pendapat berbeda, berargumen bahwa Sordo seharusnya tetap mempertahankan gelarnya.

Bagi Sordo, ini adalah pukulan telak setelah performa impresifnya. Sepanjang musim 2025, ia tampil konsisten dan menjadi ancaman utama di setiap reli. Namun, faktor non-teknis di luar lintasan justru merenggut gelarnya. Sementara itu, Araujo, yang mungkin tidak pernah menyangka akan mendapatkan gelar ini, kini tercatat sebagai juara Portugal 2025. Keputusan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi regulasi dan potensi dampaknya bagi pembalap asing yang ingin berkompetisi di Portugal.
Hyundai Portugal dikabarkan tidak tinggal diam. Menurut surat kabar Spanyol AS, mereka berencana mengajukan banding atas keputusan TAD. Jika banding diterima, gelar Sordo bisa dipulihkan, tetapi prosesnya bisa memakan waktu. Sementara itu, Sordo tetap fokus pada kariernya di WRC. Musim ini, ia tampil sebagai pembalap paruh waktu untuk Hyundai dan akan mengendarai mobil ketiga di Rally Sardinia, penutup musim. Meski gelar Portugisnya hilang, Sordo tetap menjadi aset berharga bagi Hyundai di ajang WRC.
Kasus ini menyoroti kompleksitas antara regulasi nasional dan kompetisi internasional. Di satu sisi, gelar nasional seharusnya menjadi milik pembalap yang benar-benar mewakili negara tersebut. Di sisi lain, pembalap asing yang berkompetisi di kejuaraan nasional sering kali tampil lebih baik dan berhak mendapatkan pengakuan. TAD memilih untuk mengutamakan koneksi kewarganegaraan, yang mungkin akan menjadi preseden bagi kejuaraan nasional lainnya. Bagi Sordo, ini adalah bab pahit dalam kariernya, tetapi ia masih memiliki kesempatan untuk bangkit di panggung WRC.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!