Marco Bezzecchi akhirnya bisa bernapas lega. Setelah melewati beberapa bulan yang sangat berat, pembalap Aprilia itu menutup seri Inggris di Silverstone dengan dua podium ketiga — satu di Sprint Race dan satu lagi di balapan utama. Hasil ini seperti oase di tengah gurun yang sebelumnya ia lalui, terhitung sejak kemenangannya di GP Italia, empat balapan Minggu beruntun berakhir tanpa poin.
Beban itu semakin berat karena fisiknya tidak dalam kondisi prima. Bezzecchi menjalani dua operasi dalam tujuh hari selama jeda musim panas, dan tiba di Silverstone dengan rasa sakit yang masih mengganggu. Namun, tekadnya luar biasa. “Saya senang. Saya lelah, tidak bisa lebih, tapi itu sepadan. Kemarin emosional, hari ini lebih lagi. Saya terlalu menginginkannya [podium], saya tidak bisa menyerah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Podium ganda ini menjadi awal yang manis untuk paruh kedua musim. Bezzecchi tidak lupa berterima kasih kepada semua pihak yang mendukungnya, termasuk Massimo Rivola dan Michele Colaninno yang rutin meneleponnya hanya untuk membuatnya tersenyum. “Pabrik melakukan pekerjaan luar biasa, tidak hanya akhir pekan ini. Mereka fantastis,” pujinya.

Meski hasilnya positif, Bezzecchi menolak berpuas diri. “Ini akhir pekan yang bagus, tapi masih panjang. Yang penting menghadapi semuanya dengan mentalitas yang tepat,” katanya. Ia mengakui jeda dua pekan ke depan sangat ia butuhkan untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. “Jika dalam kondisi normal, saya mungkin ingin langsung balapan, tapi situasi saya berbeda. Saya harus memanfaatkan jeda ini sebaik mungkin,” tambahnya.
Emosinya meluap setelah podium. “Sulit menahan air mata. Saya bukan tipe yang menunjukkan emosi, tapi saat adrenalin turun, semua beban keluar,” akunya. Ia juga mengakui bahwa podium ini bukan sekadar hasil, melainkan simbol perjuangan panjang. “Saya bohong jika bilang ini seperti kemenangan, tapi ini podium yang bagus. Trofi ini akan mengingatkan saya pada banyak hal, baik dan buruk,” ujarnya.
Di balik kesuksesan itu, ia hampir kehilangan podium dari Alex Marquez. “Saya menyimpan sesuatu dengan ban, tapi tahu fisik saya akan menurun. Dan memang begitu, saat Martin dan Alex melewati saya di tengah balapan. Untungnya Alex membuat kesalahan di tikungan pertama, memberi saya ruang untuk bernapas,” jelasnya. Strateginya pun berjalan sesuai rencana, meski ia mengaku sedikit kesal karena tidak bisa menekan lebih keras.
Sekarang, perhatian beralih ke Aragon, sirkuit yang dianggap sebagai “wilayah kekuasaan” Marc Marquez. Bezzecchi sadar betul tantangan itu. “Dia sangat cepat di sana, selalu mendominasi. Kami tahu dia akan dalam mode serangan, seperti katanya,” ujarnya. Target utamanya jelas: tiba di Aragon dalam kondisi fisik yang lebih baik. “Saya tidak bisa memprediksi masa depan, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin,” pungkasnya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!