George Russell mengunci kemenangan di Grand Prix Azerbaijan akhir pekan lalu, tapi sorotan Baku belum usai. Kota di tepi Laut Kaspia itu langsung bersiap untuk acara besar berikutnya: Baku International Arts Festival yang akan digelar 28 Oktober hingga 8 November 2025.
Balapan yang berlangsung 51 lap di sirkuit jalanan sepanjang 6 km itu memang sudah menjadi salah satu sumber drama paling konsisten sejak debutnya sebagai European Grand Prix 2016. Tahun ini, penyelenggara memindahkan balapan ke Sabtu, 26 September, agar tidak bentrok dengan Remembrance Day pada 27 September. Permintaan itu datang dari promotor dan pemerintah, dan F1 dengan senang hati menyesuaikan.
Kesiapan Baku mengubah kalender balap demi kotanya sendiri menunjukkan bagaimana Azerbaijan memandang event besar. Grand Prix bukan sekadar balapan akhir pekan, melainkan bagian dari kalender budaya yang lebih luas. Setelah balapan usai, sirkuit dibongkar dalam semalam; lalu lintas kembali normal dalam 24 jam, sementara grandstand dan infrastruktur berat dibersihkan dalam beberapa pekan berikutnya. Logistik tim pun bergerak cepat: peralatan kritis dikirim via udara, barang curah lewat laut dengan biaya lebih murah.

Hanya 32 hari setelah lampu start padam, Baku kembali menjadi tuan rumah event utama. Baku International Arts Festival edisi kedua menawarkan lebih dari 20 pertunjukan teater, balet, musik, film, dan masterclass. Skalanya setara dengan edisi perdana tahun lalu yang menghadirkan lebih dari 100 seniman. English National Ballet dan Les Ballets de Monte-Carlo akan tampil perdana di Baku, begitu pula David Garrett dan Maxim Vengerov. Akram Khan membawa Thikra’s Night of Remembering, sementara William Kentridge menampilkan interpretasi multimedia dari Simfoni No. 10 Shostakovich untuk memperingati 120 tahun komposer tersebut. Lev Dodin dengan The Seagull dan Dmitry Krymov dengan Bloody Mary melengkapi tawaran teater kelas dunia.
Mengapa ini penting bagi penggemar motorsport? Karena penonton yang terbang ke Baku untuk Grand Prix adalah audiens yang ingin kota itu tarik kembali. Mereka mobilitas internasional tinggi, sudah mengenal Old City, dan tahu hotel serta restoran. Beberapa venue BIAF—dari Icherisheher hingga Philharmonic Hall di dekat tembok kota—berada tak jauh dari lokasi sirkuit yang sebulan sebelumnya masih berdiri. Formula 1 memang memberi Baku profil global, tapi kota ini ingin lebih dari itu: menjadikan Autumn sebagai panggung budaya yang tak kalah bergengsi.

Dengan kesuksesan Grand Prix ke-10 dan persiapan festival yang matang, Baku membuktikan bahwa mereka mampu menyelenggarakan event kelas dunia secara berkelanjutan. Bagi penggemar F1, ini adalah kesempatan untuk melihat sisi lain kota yang selama ini dikenal karena tikungan sempit dan drama balapnya. Bagi Azerbaijan, ini adalah langkah strategis untuk memposisikan diri sebagai destinasi budaya di kancah global.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!