Perjalanan karier Alvaro Bautista di kejuaraan balap motor dunia menyimpan dinamika yang sangat unik, mulai dari masa kejayaannya di kelas 125cc dan 250cc hingga keputusannya yang sempat enggan hijrah ke ajang Superbike. Mantan juara dunia 125cc tahun 2006 ini langsung mencuri perhatian di kelas 250cc dengan merebut kemenangan dan finis di posisi keempat klasemen pada musim debutnya tahun 2007, sebelum menjadi runner-up dunia pada tahun berikutnya dengan koleksi empat kemenangan Grand Prix.
Langkah pembalap asal Spanyol ini kemudian berlanjut ke ajang MotoGP dari musim 2010 hingga 2018. Selama sembilan tahun berkarier di kelas premier bersama pabrikan seperti Suzuki dan Aprilia, serta tim satelit Honda dan Ducati, ia tidak pernah mendapatkan motor pabrikan terbaik di grid, meski tetap mampu mengamankan tiga podium dan finis di posisi kelima klasemen pada 2012 serta keenam pada 2013 bersama Honda.
Ketika pintu MotoGP tertutup rapat pada akhir 2019 karena ketiadaan kursi tim, Alvaro Bautista terpaksa melangkah ke WorldSBK bergabung dengan tim pabrikan Ducati yang saat itu baru menurunkan motor bermesin V4, yaitu Panigale V4R. Kombinasi motor dan postur tubuhnya langsung mendominasi dengan menyapu bersih sepuluh kemenangan awal melawan rival tangguh Jonathan Rea di atas Kawasaki, meski akhirnya harus rela kehilangan gelar akibat beberapa kesalahan krusial di paruh musim.

Setelah sempat hijrah ke Honda dengan kontrak fantastis selama dua musim, ia kembali ke Ducati pada 2022 dan menjelma sebagai pembalap tersukses pabrikan Borgo Panigale sepanjang sejarah dengan raihan dua gelar juara dunia, 63 kemenangan, dan 126 podium. Dilansir dari Speedweek, sang pembalap bernomor start 19 ini mengakui pandangannya berubah drastis terhadap kejuaraan superbike yang awalnya ia anggap sebelah mata ketika masih berkarier di paddock Grand Prix.
«Dalam Superbike saya mendapat kesempatan untuk mengeluarkan potensi saya,» ungkap sang veteran. «Di MotoGP saya tidak menemukan tempat lagi dan awalnya saya tidak ingin ke Superbike. Ketika saya tiba, saya menemukan bahwa levelnya tidak lebih rendah, hanya berbeda. Anda tidak bisa membandingkannya. MotoGP tidak lebih baik, itu berbeda. Saya menikmatinya sejak awal dan mendapat kesempatan untuk memenangkan banyak balapan dan dua gelar.»
Namun di balik rasa cinta dan kesuksesannya yang masif bersama Ducati di WorldSBK, Alvaro Bautista juga menyimpan kekecewaan mendalam terhadap regulasi teknis yang diterapkan belakangan ini. Regulasi baru tersebut dinilai merusak performa optimal yang selama ini ia bangun bersama tim dan pabrikan asal Italia tersebut di lintasan balap.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!