Stefano Domenicali menyatakan dukungannya terhadap wacana kembalinya mesin V8 ke Formula 1 di masa depan, di tengah meningkatnya kritik terhadap arah regulasi power unit 2026 yang dianggap terlalu bergantung pada sistem elektrifikasi. CEO F1 itu menilai kombinasi mesin V8, bahan bakar berkelanjutan, dan mobil yang lebih ringan dapat mengembalikan karakter alami balap grand prix.
Wacana tersebut pertama kali diangkat oleh Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem, yang sebelumnya menyampaikan keinginannya untuk melihat mesin V8 kembali digunakan pada siklus regulasi berikutnya setelah era hybrid generasi baru dimulai pada 2026. Proposal awal itu tetap mempertahankan penggunaan sustainable fuel, namun dengan konfigurasi mesin yang lebih sederhana, lebih ringan, dan berbiaya lebih rendah dibanding power unit hybrid turbo saat ini.
Domenicali menegaskan dirinya sepenuhnya mendukung arah tersebut. Menurutnya, Formula 1 tetap harus mempertahankan identitas emosional dan teknis yang selama puluhan tahun menjadi daya tarik utama kategori tertinggi motorsport dunia.

“1.000%, saya selalu mengatakan itu,” ujar Domenicali kepada L’Equipe.
“Saya sepenuhnya mendukung visi Presiden FIA. Dengan bahan bakar berkelanjutan, mobil yang lebih ringan, dan mesin V8, kami bisa menemukan kembali esensi murni motorsport. Itu yang selalu saya sukai.”
Mesin V8 terakhir digunakan Formula 1 pada musim 2013 sebelum olahraga ini memasuki era turbo hybrid V6 pada 2014. Sejak saat itu, kompleksitas sistem hybrid meningkat drastis, terutama pada area pemulihan energi dan elektrifikasi power unit. Regulasi 2026 bahkan akan memperbesar kontribusi tenaga listrik dalam distribusi performa mobil, sesuatu yang mulai memunculkan kekhawatiran dari sejumlah pembalap dan prinsipal tim.
Beberapa pembalap secara terbuka menilai konsep power unit 2026 berpotensi menciptakan balapan yang terlalu dipengaruhi manajemen energi baterai, bukan pertarungan wheel-to-wheel murni. Kritik terbesar datang dari simulasi performa yang menunjukkan kemungkinan mobil kehilangan tenaga secara signifikan di lintasan lurus ketika kapasitas baterai menurun, terutama di sirkuit dengan karakter high-speed.
Di sisi lain, Domenicali membela keputusan Formula 1 dan FIA untuk tetap melanjutkan regulasi 2026. Ia menegaskan perubahan tersebut lahir dari kebutuhan menjaga keterlibatan pabrikan besar di tengah transformasi industri otomotif global menuju elektrifikasi dan efisiensi energi.
“Beberapa orang, dan saya tambahkan sangat sedikit orang, mengeluhkan regulasi ini,” kata Domenicali.
“Saya hanya menyampaikan fakta. Kita tidak boleh lupa bahwa perubahan ini diperlukan, jika tidak maka para pabrikan tidak akan lagi memasok mesin kepada tim. Itu adalah keinginan mereka. Dan karena kami tidak ingin sepenuhnya beralih ke listrik, maka kompromi ditemukan untuk menarik pabrikan baru.”
Regulasi 2026 memang menjadi fondasi masuknya sejumlah produsen baru ke Formula 1, termasuk Audi dan penguatan proyek powertrain dari berbagai pabrikan besar lainnya. Namun, munculnya kembali diskusi soal V8 menunjukkan bahwa Formula 1 masih mencari keseimbangan antara relevansi industri otomotif modern dan tuntutan karakter balap tradisional yang diharapkan penggemar serta pembalap. Perdebatan ini diperkirakan akan terus berkembang menjelang implementasi penuh regulasi baru pada musim 2026.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!