Formula 1, Sportrik Media - Ketegangan lama antara Christian Horner dan Toto Wolff kembali mencuat setelah mantan bos Red Bull itu mengungkap pesan terakhir yang ia terima dari pimpinan Mercedes menyusul pemecatannya dari Red Bull Racing.
Persaingan Horner dan Wolff selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu rivalitas paling menentukan dalam era modern Formula 1. Dominasi Red Bull bersama Max Verstappen dalam beberapa musim terakhir memperpanjang tensi tersebut, terutama setelah Mercedes kehilangan supremasi era hybrid awal 2014–2021. Ungkapan terbaru Horner dinilai sebagai sindiran terakhir dalam rivalitas panjang dua figur manajerial paling berpengaruh di paddock.
Sementara itu, dinamika internal Red Bull juga terus berkembang. Ralf Schumacher menilai Verstappen kini telah menjadi “pemimpin absolut” di dalam struktur tim menyusul sejumlah kepergian figur kunci dalam organisasi. Dalam konteks regulasi 2026 yang semakin kompleks, posisi Verstappen dinilai krusial dalam menjaga arah teknis dan stabilitas performa tim asal Milton Keynes tersebut.

Di sisi lain, rival utama Red Bull justru menghadapi tekanan besar. Aston Martin mendapat kritik tajam dari Schumacher yang menyebut proyek 2026 mereka sebagai “bencana besar”. Kerja sama baru dengan Honda dan keterlibatan Adrian Newey sebelumnya dipandang sebagai fondasi ambisi jangka panjang, namun hasil tes pramusim menunjukkan persoalan reliabilitas dan korelasi pengembangan yang signifikan menjelang pembuka musim di Australia.
Di luar isu teknis, perhatian juga tertuju pada langkah komunikasi publik pembalap. Lewis Hamilton mengejutkan publik dengan membagikan refleksi profesionalnya melalui platform LinkedIn, langkah yang tidak lazim bagi pembalap F1 aktif. Juara dunia tujuh kali yang kini membela Scuderia Ferrari itu menggunakan media profesional tersebut untuk membahas adaptasi dan fase baru dalam kariernya bersama tim Maranello.
Seluruh dinamika tersebut berlangsung di tengah implementasi regulasi mesin 2026 yang radikal. Formula baru ini meningkatkan kontribusi elektrifikasi secara signifikan, dengan distribusi tenaga yang mendekati keseimbangan antara mesin pembakaran internal dan sistem listrik. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi desain power unit, tetapi juga strategi manajemen energi, pendinginan, serta pendekatan aerodinamika keseluruhan.
Dengan rivalitas manajemen yang kembali memanas, reposisi kepemimpinan tim, tekanan terhadap proyek teknis baru, hingga adaptasi pembalap di tim besar, musim 2026 diproyeksikan menjadi salah satu fase transisi paling kompleks dalam sejarah modern Formula 1. Grand Prix Australia sebagai pembuka musim akan menjadi panggung pertama untuk menguji stabilitas proyek-proyek besar tersebut dalam kondisi kompetitif sesungguhnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!