SPONSORED

Charles Leclerc Akhiri Kutukan 93 Tahun Monaco yang Bersejarah

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Charles Leclerc Akhiri Kutukan 93 Tahun Monaco yang Bersejarah TO NEWS OVERVIEW
© XPBimages

Charles Leclerc mencatatkan salah satu kemenangan paling emosional dalam sejarah Formula 1 ketika menjuarai Grand Prix Monaco 2024 pada 26 Mei. Kemenangan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi terbesar dalam karier pembalap Ferrari itu, tetapi juga mengakhiri penantian selama 93 tahun bagi seorang pembalap Monako untuk menang di balapan kandangnya sendiri.

Sebelum Leclerc, pembalap terakhir asal Principality yang berhasil memenangkan balapan di Monaco adalah Louis Chiron pada tahun 1931 menggunakan Bugatti Type 51. Sejak Formula 1 resmi menjadi kejuaraan dunia pada 1950, tidak ada satu pun pembalap Monako yang mampu mengulang pencapaian tersebut. Karena itu, kemenangan Leclerc langsung menempati posisi khusus dalam sejarah olahraga negara kecil tersebut.

Keberhasilan itu tidak datang secara instan. Monaco selama bertahun-tahun menjadi salah satu lintasan yang paling menyakitkan bagi Leclerc. Pada 2021, ia merebut pole position tetapi gagal memulai balapan akibat kerusakan driveshaft yang berasal dari kecelakaan saat sesi kualifikasi. Setahun kemudian, Leclerc kembali memimpin dari pole sebelum strategi Ferrari yang buruk dalam kondisi cuaca berubah membuatnya terlempar keluar dari perebutan kemenangan.

Sergio Perez Desak Cadillac Selidiki Kerusakan Suspensi di Kanada
Baca JugaSergio Perez Desak Cadillac Selidiki Kerusakan Suspensi di Kanada

Memasuki akhir pekan 2024, tekanan terhadap Leclerc sangat besar. Sebagai pembalap lokal yang tumbuh di jalan-jalan Monte Carlo, ekspektasi publik selalu menyertainya setiap kali Formula 1 datang ke Monaco. Namun kali ini ia berhasil mengubah tekanan tersebut menjadi performa yang nyaris sempurna.

ADVERTISEMENT

Pondasi kemenangan dibangun sejak hari Sabtu. Leclerc mencetak pole position dengan putaran 1 menit 10,270 detik, unggul 0,154 detik atas Oscar Piastri. Pole tersebut menjadi pole Monaco ketiganya sekaligus pole position ke-250 dalam sejarah Ferrari di Formula 1.

Dari sudut pandang teknis, pole position memiliki arti yang jauh lebih besar di Monaco dibandingkan sirkuit lain. Karakter lintasan yang sempit membuat peluang menyalip sangat terbatas sehingga posisi start sering kali menentukan hasil akhir balapan. Karena itu, keunggulan Leclerc pada sesi kualifikasi menjadi faktor krusial dalam upayanya mematahkan berbagai kegagalan masa lalu.

Balapan sendiri sempat diwarnai insiden besar pada lap pertama setelah tabrakan yang melibatkan Sergio Perez, Kevin Magnussen, dan Nico Hulkenberg memicu red flag. Namun restart berdiri yang dilakukan setelahnya tidak mengubah urutan para pembalap terdepan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Kejuaraan Dunia Formula 1, sepuluh pembalap teratas finis dalam urutan yang sama persis dengan posisi start mereka.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, tekanan terhadap Leclerc tidak pernah benar-benar hilang. Mengendalikan balapan di Monaco berarti harus menjaga konsentrasi penuh selama puluhan lap di lintasan yang tidak memberikan ruang bagi kesalahan sekecil apa pun. Setiap pagar pembatas, setiap tikungan, dan setiap restart membawa risiko yang dapat menghapus seluruh kerja keras akhir pekan dalam hitungan detik.

"Ini adalah balapan yang membuat saya bermimpi menjadi pembalap Formula 1 suatu hari nanti. Balapan ini sangat sulit secara emosional karena ketika tersisa sekitar 15 lap, Anda hanya berharap tidak ada apa pun yang terjadi," ujar Leclerc setelah balapan.

Leclerc juga mendedikasikan kemenangan tersebut untuk mendiang ayahnya yang memiliki peran besar dalam perjalanan kariernya. Baginya, kemenangan di Monaco bukan sekadar tambahan statistik atau trofi, melainkan pemenuhan impian keluarga yang telah diperjuangkan sejak masa kecil.

ADVERTISEMENT

Dua tahun setelah momen bersejarah tersebut, Leclerc masih memburu gelar juara dunia Formula 1 pertamanya. Namun apa pun yang akan terjadi dalam kariernya ke depan, 26 Mei 2024 akan selalu dikenang sebagai hari ketika pembalap Monako akhirnya berhasil menaklukkan lintasan yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai kutukan terbesar dalam hidupnya.

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Aman, Cepat & Terenkripsi

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

RECOMMENDED FOR YOU