Aksi mendebarkan tersaji di penutupan musim FIA World Endurance Championship ketika Earl Bamber sukses membawa mobil Cadillac V-Series.R nomor 38 melesat menjadi yang tercepat di balapan 6 Jam Monza. Di tengah sengitnya persaingan kelas Hypercar, Brendon Hartley bersama rekan setimnya di Toyota berhasil mengunci gelar juara dunia pembalap yang kelima dalam kariernya meski menghadapi akhir pekan yang penuh ujian berat di Sirkuit Monza.
Jalannya balapan langsung menyuguhkan drama sejak tikungan pertama ketika Miguel Molina yang memegang pole position harus merelakan posisi terdepan setelah Dani Juncadella melakukan aksi potong jalur di tikungan Retifilo chicane yang langsung diganjar penalti waktu lima detik. Memanfaatkan celah tersebut, Jack Aitken yang mengemudikan mobil Cadillac langsung tancap gas menyalip Molina dan mengambil alih pimpinan lomba saat balapan baru memasuki lap ketujuh di tikungan Parabolica. Sejak momen krusial tersebut, dominasi skuad Cadillac sulit dibendung oleh para rival di barisan depan.
Namun, ketegangan memuncak menjelang detik-detik akhir balapan saat strategi penghematan bahan bakar diterapkan secara masif. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Victor Martins yang menggeber mobil Alpine nomor 36 untuk memangkas selisih waktu yang tadinya terpaut 10 detik menjadi hanya tinggal 5 detik saja dari pimpinan lomba saat bendera finis dikibarkan. Podium juara ketiga akhirnya diamankan oleh trio Ferrari yang terdiri dari Alessandro Pier Guidi, James Calado, serta Antonio Giovinazzi dengan selisih waktu 35 detik di belakang sang juara balapan.

“Pekerjaan yang luar biasa oleh setiap orang hari ini,” ujar Bamber seusai perlombaan. “Kami telah bekerja keras dan terus berjuang sepanjang tahun, jadi menjaga momentum kemenangan ini adalah sesuatu yang sangat spesial. Semua orang di Cadillac telah bekerja sangat luar biasa. Kami memiliki mobil yang hebat di Le Mans, dan saya pikir kami terus membangun momentum sejak saat itu.”
Sementara itu di kubu pabrikan Jepang, Sebastien Buemi dan Ryo Hirakawa turut merayakan keberhasilan merengkuh titel juara dunia pembalap bersama Hartley meskipun mobil mereka gagal mendulang poin di seri pamungkas ini. Pesaing terdekat mereka di klasemen internal tim yakni mobil Toyota nomor 19 yang diawaki oleh Mike Conway, Kamui Kobayashi, dan Nyck de Vries juga mengalami nasib serupa dan harus puas finis di posisi ke-12.
“Sebagai sebuah tim, kami telah merayakan keberhasilan mengamankan gelar pabrikan di Barcelona, yang terasa sangat luar biasa bagi semua orang,” ungkap Hartley. “Setelah semua kerja keras yang dicurahkan pada mobil TR010 Hybrid, kami tahu musim ini adalah kesempatan emas bagi kami. Menghadapi persaingan yang begitu ketat, kami harus meningkatkan setiap area di dalam tim, termasuk sebagai pembalap, jadi ini adalah perasaan yang sangat hebat untuk mengakhiri musim sebagai juara dunia.”
Keseruan juga merembet ke kelas LMGT3 di mana wakil asal Australia, Sam Shahin, sukses keluar sebagai yang tercepat setelah berjuang habis-habisan bersama rekan setimnya di Manthey yaitu Ricardo Pera dan Richard Lietz. Hasil gemilang di Monza ini sekaligus menutup tirai kompetisi ketahanan dunia dengan catatan dominasi mutlak dari pabrikan asal Jepang yang telah mengoleksi total delapan gelar pabrikan sejak kembali ke ajang WEC pada tahun 2012.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!