Gabriel Bortoleto menerima pujian luar biasa dari bos Audi, Mattia Binotto, yang menyamakan etos kerja pembalap muda itu dengan legenda Formula 1, Michael Schumacher. Dalam wawancara dengan Automoto.it, Binotto mengungkapkan bahwa Bortoleto memiliki karakter yang mengingatkannya pada sosok Schumacher, terutama dalam hal dedikasi dan kepekaan humanis.
Binotto bukan nama baru di paddock. Ia menghabiskan 28 tahun bersama Ferrari sebelum akhirnya bergabung dengan Sauber pada 2024. Selama kariernya, ia telah bekerja dengan banyak pembalap top, namun Schumacher tetap menjadi sosok yang paling membekas. "Etos kerjanya. Michael adalah orang dengan nilai-nilai besar dalam hal kerja keras, profesionalisme, komitmen, dedikasi, motivasi, dan passion. Anda tidak bisa mengimprovisasi itu," ujar Binotto.
Lebih jauh, Binotto menjelaskan bahwa bakat saja tidak cukup untuk menjadi juara. "Bakat itu perlu, tapi tidak cukup. Anda butuh lebih. Sebagai pribadi, ia memberikan yang terbaik di luar kokpit. Sebagai pembalap, ia menutup visornya, menjadi Michael yang kita semua lihat dan kenal sebagai pembalap. Tapi saya selalu berpikir Michael bahkan lebih kuat sebagai pribadi, bukan hanya karena etos kerjanya, tapi juga kemurahan hatinya terhadap semua orang. Ia memberikan perhatian kepada setiap orang, membuat kami merasa nyaman dan menempatkan kami dalam kondisi ideal untuk melakukan yang terbaik," tambahnya.

Ketika ditanya apakah ada pembalap saat ini yang mengingatkannya pada Schumacher, Binotto tidak ragu menyebut nama Bortoleto. "Gabriel. Karena etos kerjanya dan karena dia adalah orang dengan kepekaan humanis yang besar," jawabnya. Pujian ini tentu menjadi cambuk semangat bagi Bortoleto yang sedang meniti karier di F1.
Bortoleto sendiri mengaku terkejut dan tersanjung mendengar pujian tersebut. Ia mengakui bahwa Schumacher bukanlah idolanya sejak kecil, tetapi berkat obrolan dengan Binotto, ia mulai mengenal dan mengagumi sosok juara dunia tujuh kali itu. "Michael menjadi idola saya karena dia. Dia selalu membicarakannya. Lalu saya mulai belajar tentang dia dan menyadari betapa hebatnya dia. Saya bahkan belum lahir saat dia memenangkan segalanya. Baru kemarin kami membicarakannya, tentang bagaimana dia memperlakukan timnya," ungkap Bortoleto.
Kisah ini menunjukkan betapa besar pengaruh Schumacher tidak hanya bagi generasi yang menyaksikannya berlaga, tetapi juga bagi pembalap muda seperti Bortoleto. Etos kerja dan sikap humanis yang diwariskan Schumacher menjadi standar yang sulit ditandingi, namun Binotto melihat potensi itu dalam diri Bortoleto. Dengan bimbingan yang tepat, bukan tidak mungkin Bortoleto akan mengukir prestasi serupa di masa depan.
Bagi Audi, yang akan bergabung ke F1 pada 2026, memiliki pembalap seperti Bortoleto bisa menjadi aset berharga. Kombinasi bakat alami dan etos kerja tinggi adalah fondasi yang kokoh untuk membangun tim yang kompetitif. Binotto, yang telah terbukti sukses membangun Ferrari bersama Schumacher, tampaknya ingin mengulang sejarah dengan Bortoleto di Audi. Tentu saja, perjalanan masih panjang, tetapi pujian ini setidaknya memberikan gambaran tentang arah yang ingin dituju tim Jerman tersebut.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!