Enea Bastianini mengungkapkan bahwa jendela setup yang sempit pada RC16 menjadi sumber kekhawatiran menjelang akhir kiprahnya bersama KTM. Pebalap Red Bull KTM Tech3 itu menyebut bahwa motor tersebut hanya bisa bekerja optimal dalam rentang pengaturan yang sangat terbatas, dan setiap penyimpangan berpotensi berujung pada bencana.
Selama membela Ducati, Bastianini menikmati fleksibilitas tinggi pada Desmosedici yang memiliki jendela setup lebar. Motor itu mudah diadaptasi ke berbagai karakter sirkuit, baik stop-start maupun mengalir, dalam kondisi dingin maupun panas. Namun, hal serupa tidak ia temukan pada RC16.
“Jendela setup motor ini sangat sempit saat ini,” ujar Bastianini usai MotoGP Misano. “Anda harus bekerja di dalam jendela itu. Jika mencoba keluar, hasilnya bencana. Itu masalah utama bagi saya, dan biasanya kami mengalami hal ini berkali-kali selama balapan panjang, termasuk Pedro [Acosta]. Kami bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dibanding Sabtu dan sisa akhir pekan.”

Bastianini menegaskan bahwa ia sudah tahu apa yang perlu dicari untuk perbaikan ke depan, namun mewujudkannya bukan perkara mudah. “Saya sudah jelas di dalam pikiran, tetapi tidak mudah. Saat ini, seperti saya bilang, jendelanya sangat sempit,” tambahnya.
Pada balapan Minggu di Misano, Bastianini tampil impresif dengan memulihkan posisi dari start ke-16 hingga finis di urutan kedelapan, melewati Luca Marini di lap terakhir. Ia mencatatkan lap 1m31,2s saat sendirian, menunjukkan potensi kompetitif di akhir balapan. “Saya tidak terkejut karena biasanya di akhir balapan, ketika saya punya kepercayaan diri dan dukungan dari depan, saya bisa melakukannya,” jelasnya.
Namun, masalah utama bagi Bastianini adalah ketidakstabilan front-end di awal balapan. “Bukan hanya perbedaan di akhir balapan, tetapi di awal balapan sangat rumit. Ada banyak pergerakan dari depan dan saya merasa front sangat di batas kemampuan. Setelah itu, lap demi lap membaik, dan saya bisa lebih memanfaatkan rear, membuka gas lebih awal, serta bermanuver dengan ban belakang. Itu membantu saya berbelok dan melakukan manuver berbeda,” paparnya.
Bastianini berharap data dari Misano bisa menjadi acuan berharga untuk memahami perilaku motor dari awal hingga akhir balapan. “Saya pikir setelah GP ini kami punya lebih banyak data untuk dipelajari, karena ini adalah GP terbaik untuk membandingkan dari start hingga finis,” ujarnya.
Dengan kontrak yang akan berakhir, Bastianini bertekad memaksimalkan sisa balapan bersama KTM sambil terus mendorong pengembangan RC16. Ia menyadari bahwa konsistensi performa masih menjadi pekerjaan rumah besar, dan solusi teknis harus segera ditemukan agar bisa bersaing di level atas.
“Kami tidak selalu berada di puncak. Kadang kami baik, kadang sangat rendah di klasemen. Kami perlu menemukan solusi lain,” pungkasnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!