Kejuaraan Dunia MotoGP akhir pekan ini menyambangi lintasan Mandalika International Street Circuit di Indonesia, tempat di mana Aprilia tampil dominan tahun lalu, meski kemenangan balapan utama hari Minggu justru direbut oleh pembalap Gresini Ducati, Fermin Aldeguer. Bagi rekan setimnya, Alex Marquez, seri ini menjadi momentum penting untuk bangkit dan melupakan akhir pekan yang penuh turbulensi di Motegi, di mana ia harus menjalani hukuman double long-lap penalty akibat insiden kecelakaan di sesi sprint yang dikreditkan sebagai kesalahannya.
"Di sini semuanya kembali berbeda dibanding Motegi. Kami harus melihat bagaimana cara kami beradaptasi dengan ban belakang. Kami tidak ingin membuat kesalahan dan ingin memaksimalkan potensi kami. Kami ingin memiliki kecepatan untuk meraih hasil yang bagus," tegas pembalap asal Spanyol yang merupakan adik dari Marc Marquez tersebut.
Menariknya, urusan karakteristik ban dan kompon bagian belakang sempat membuatnya sedikit kebingungan. Tantangan grip di area tepi ban serta permukaan lintasan baru menjadi variabel teknis yang harus segera dikuasai oleh para insinyur di garasi tim. Karakteristik cengkeraman di sirkuit ini dinilai sangat kontras jika dibandingkan dengan venue balap sebelumnya seperti di Austria.

Ketika disinggung mengenai rencana perubahan format akhir pekan MotoGP mulai musim 2027 mendatang, Alex Marquez hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Menurutnya,, opini dari para pembalap tidak akan banyak mengubah keputusan akhir yang diambil oleh otoritas kejuaraan.
"Keputusan tidak akan berubah hanya karena kami menyampaikan pendapat mengenai hal ini. Yang ada hanya tinggal menerimanya atau meninggalkan kejuaraan dunia MotoGP. Kita akan menghabiskan lebih banyak waktu di atas lintasan dan risiko yang ada juga akan semakin besar. Situasinya memang seperti ini—kita harus menerimanya dan tidak banyak hal yang bisa dilakukan," ujarnya blak-blakan.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti betapa sulitnya menyatukan suara dari seluruh grid. Menurut pandangannya, mustahil menyamakan pemikiran 22 pembalap di satu garis yang sama karena selalu ada perbedaan pendapat serta tekanan dari pihak pabrikan yang memiliki kepentingan masing-masing.
"Tidak mungkin membuat 22 pembalap sepemikiran. Selalu ada opini yang berbeda. Selalu ada tekanan dari pabrikan ke satu arah atau arah lainnya. Kita semua memiliki kontrak masing-masing dan itu membuat segalanya menjadi cukup rumit. Jika Anda ingin mengubah format, itu harus dilakukan sebelum kontrak-kontrak tersebut ditandatangani," pungkasnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!