Max Verstappen tidak bisa menyembunyikan kemarahannya setelah kualifikasi Grand Prix Azerbaijan di Sirkuit Baku. Juara dunia empat kali itu hanya mampu menempati posisi kedelapan, hasil yang jauh dari harapannya setelah tim Red Bull membawa sejumlah pembaruan yang diyakini mampu mengembalikan performa kompetitifnya. Namun, masalah teknis pada power unit dan baterai membuat Sabtu di Baku berubah menjadi mimpi buruk.
Sejak awal sesi kualifikasi, Verstappen sudah merasakan ada yang tidak beres dengan mesin mobilnya. Ia mengeluh bahwa motor tidak bekerja optimal di sepanjang lintasan lurus, membuatnya kehilangan waktu berharga. “Selama kualifikasi, mesin tidak berfungsi. Kami melakukan penyesuaian pada mobil tetapi hasilnya tidak sepenuhnya positif. Dibandingkan dengan Isack (Hadjar), saya setengah detik lebih lambat di trek lurus,” ujar Verstappen dengan nada frustrasi.
Puncaknya terjadi di Q3. Baterai mobilnya tiba-tiba hanya terisi setengah, memaksa tim memberikan instruksi yang tidak masuk akal baginya. “Di Q3, tiba-tiba baterai tidak mengisi penuh. Mereka bilang kepada saya untuk mendorong dengan setengah baterai, dan saya jawab: ‘Ya, pergilah ke neraka’. Saya benar-benar muak. Anda mempersiapkan diri dengan baik sepanjang akhir pekan, mobil terasa oke, lalu semuanya berantakan di kualifikasi, tidak ada yang bisa Anda lakukan,” tambahnya.

Akibat masalah baterai tersebut, Verstappen harus menghentikan putaran cepatnya. Ban mobil pun menjadi terlalu dingin karena tidak bisa didorong maksimal. “Setelah putaran itu, yang harus saya hentikan karena baterai hanya setengah terisi, ban menjadi terlalu dingin. Tanpa baterai, Anda tidak bisa mendorong dan tidak bisa membawa ban ke suhu yang tepat. Jadi di putaran terakhir pun saya tidak memiliki cengkeraman yang cukup, ditambah masalah mesin dan rem mesin yang sangat aneh: rasanya seperti menarik rem tangan di tikungan tertentu. Ada sesuatu yang benar-benar tidak beres,” jelasnya.
Hasil ini jelas merugikan Verstappen dalam perebutan gelar. Kemenangan terakhirnya terjadi di Abu Dhabi 2025, dan sejak itu ia selalu tertinggal. Kini ia harus memulai balapan dari baris keempat, sementara rival-rivalnya seperti Mercedes tampil superior. “Saya akan mencoba bangkit, tapi dengan kecepatan Mercedes dan kemungkinan comeback Kimi Antonelli, sulit untuk berharap lebih dari podium,” tutupnya.
Kekecewaan ini juga menjadi pukulan bagi tim Red Bull yang berharap pembaruan mobil bisa mengembalikan dominasi mereka. Kini mereka harus bekerja keras untuk memperbaiki masalah teknis sebelum balapan dimulai. Jika tidak, posisi Verstappen di klasemen pembalap bisa semakin terancam.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!