Sami Pajari menutup musim keduanya di kelas premier WRC dengan performa luar biasa yang nyaris berbuah mahkota juara dunia. Mengoleksi tiga kemenangan reli dan sembilan kali naik podium, catatan impresif tersebut sejatinya sudah lebih dari cukup untuk mengunci gelar di era regulasi lawas. Namun, dinamika kompetisi modern menuntut konsistensi paripurna di bawah sistem poin baru yang turut memperhitungkan torehan hari Minggu.
Pembalap muda asal Finlandia ini harus rela tertinggal enam poin saja dari puncak klasemen akhir, serta terpaut satu angka di belakang Oliver Solberg. Duel sengit sepanjang musim memperlihatkan bagaimana detail-detail kecil berbuah pada selisih yang sangat tipis di antara para kandidat juara.
"Saya tidak tahu dengan pembalap lain, tapi pada satu titik saya sadar bisa bertarung memperebutkan gelar," ungkap Pajari kepada RallyJournal. "Tentu kami mencoba memaksimalkannya, meski akhirnya belum berhasil."

Kendati gagal membawa pulang trofi utama, sembilan podium dan kemenangan beruntun membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu bintang masa depan. Tantangan terbesar musim ini justru terletak pada perolehan poin hari Minggu, di mana ia kehilangan selisih hingga hampir 70 angka dari sang juara dunia Elfyn Evans.
Strategi konservatif pada paruh pertama musim diambil demi mengamankan podium perdana tanpa mengambil risiko berlebih. Meski regulasi baru menghadirkan tantangan berbeda, Pajari tetap melihat sisi positif dari kemajuan pesat yang ia tunjukkan tahun ini.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!