Mantan pembalap Formula 1 Juan Pablo Montoya memberikan pandangan berbeda terkait insiden yang melibatkan Franco Colapinto pada Grand Prix Azerbaijan. Insiden yang terjadi saat restart dari Safety Car di Baku itu memicu polemik besar, namun Montoya justru mengapresiasi pendekatan agresif yang diperlihatkan pembalap muda Alpine tersebut.
Dalam balapan tersebut, Colapinto yang membela tim Alpine berusaha menyalip rekan setimnya, Pierre Gasly, namun gagal mengontrol mobilnya di Tikungan 1 dan menabrak Gasly. Insiden itu kemudian juga menyeret juara dunia bertahan, Lando Norris, yang sempat marah besar dan menuntut diskualifikasi. Meski akhirnya Norris meminta maaf, kontroversi tetap memanas, terlebih lagi bos Alpine, Flavio Briatore, sempat mempertimbangkan sanksi internal untuk Colapinto.
Colapinto akhirnya dijatuhi hukuman penalti turun lima posisi di grid yang harus dijalani pada balapan berikutnya di Sepang. Namun, keputusan itu tidak menyurutkan dukungan dari sebagian pihak, termasuk Montoya. Dalam wawancaranya dengan F1TV, Montoya menjelaskan bahwa kesalahan Colapinto adalah hal yang wajar dalam situasi balapan yang ketat.

“Saya pikir dia mengira semua orang akan mengerem sangat lambat. Masalahnya, ketika Anda berada di posisi belakang, terjadi semacam kemacetan. Semua orang terus mengerem dan melambat; lalu Anda lihat dia mengerem dan hampir menabrak seseorang. Jadi dia beralih ke dalam, tapi hampir menghentikan mobilnya. Dia melakukan kesalahan, menabrak rekan setimnya dan menyingkirkan Lando. Dia salah, tapi hanya kurang sedikit,” ujar Montoya. “Kesulitannya adalah ketika Anda agresif, Anda melihat peluang dan saya mengagumi mereka yang mencobanya. Saat restart, mereka melihat peluang. Ada yang berpikir 'saya tidak ingin kehilangan posisi', sementara Franco adalah tipe pembalap yang ingin mengambilnya. Ketika Anda salah satu pembalap yang, seperti Max Verstappen, selalu melihat peluang untuk diambil, tidak terhindarkan untuk membuat kesalahan.”
Pernyataan Montoya ini menyoroti dilema yang sering dihadapi pembalap muda di ajang F1: antara kehati-hatian dan agresivitas. Colapinto, yang dikenal memiliki gaya membalap menyerang, berada di bawah tekanan untuk membuktikan diri di kursi Alpine yang kompetitif. Insiden di Baku menjadi pelajaran berharga, namun juga menunjukkan potensi yang dimilikinya jika mampu mengendalikan agresivitasnya.
Sementara itu, keputusan penalti grid untuk Sepang menjadi pukulan bagi Colapinto, tetapi juga kesempatan untuk bangkit. Ia harus memanfaatkan balapan di Malaysia untuk menunjukkan bahwa kemampuannya tidak diragukan, sekaligus membuktikan bahwa agresivitasnya bisa diarahkan menjadi hasil positif. Tim Alpine, yang tengah berjuang di papan tengah, tentu berharap Colapinto dapat belajar dari kesalahan dan tampil lebih matang.
Dengan dukungan dari figur seperti Montoya, Colapinto memiliki modal mental untuk menghadapi tekanan. Publik pun menantikan apakah pembalap Argentina itu akan tampil lebih terkendali atau tetap mempertahankan gaya balapnya yang khas. Yang jelas, insiden di Baku telah menjadi sorotan, dan semua mata akan tertuju padanya di Sepang.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!