Laurent Mekies mungkin bukan nama yang paling bersinar di paddock Formula 1, tetapi sejak mengambil alih kemudi Red Bull Racing, ia perlahan tapi pasti meninggalkan jejak kepemimpinannya. Podium ganda pertama musim ini di Baku menjadi bukti bahwa pendekatan kalemnya mulai membuahkan hasil.
Ketika Red Bull Racing memutuskan berpisah dengan Christian Horner dan kemudian Helmut Marko, banyak yang bertanya-tanya apakah tim yang dibangun dari nol menjadi mesin juara itu bisa bertahan tanpa figur sentral mereka. Tapi justru di situlah Mekies hadir dengan gaya yang sama sekali berbeda: tenang, diplomatis, rasional, dan hampir selalu tersenyum. Pendekatan yang mungkin dianggap terlalu sederhana, namun kini kita mulai melihat budaya seperti apa yang ingin ia tanamkan di salah satu tim paling sukses di F1.
Pada paruh kedua musim lalu, ketika Red Bull mulai kembali menang, Mekies sering ditanya seberapa besar kontribusinya. Jawabannya sering kali 'nol' atau mendekati itu. Ia merasa belum cukup lama berada di tim untuk memberi pengaruh signifikan. Jawaban itu bisa dianggap terlalu sopan atau hasil latihan PR, tetapi sekarang pertanyaan itu jarang terdengar lagi. Sebab, sulit membantah bahwa Red Bull berada di tempat yang lebih baik dibanding awal musim 2026.

Perkembangan tim ini terlihat dari performa Max Verstappen dan Isack Hadjar. Sejak paket upgrade Austria diperkenalkan, setiap kali Verstappen finis, ia selalu naik podium. Meski dua kali gagal finis, ia hanya tertinggal lima poin dari Lando Norris dalam periode yang sama. Di Baku, upgrade terbaru membawa Red Bull meraih podium ganda pertama musim ini, dengan Verstappen kalah tipis 0,196 detik dari pemenang. Bandingkan dengan posisi mereka di China atau Jepang—sebuah kemajuan besar.
Tentu, kemenangan pertama musim 2026 masih dinanti. Ada beberapa masalah yang harus diselesaikan, termasuk perilaku mobil yang sempat dibahas terbuka oleh Verstappen. Namun, di balik itu, Mekies sudah mencatat kemenangan pribadi. Yang paling jelas adalah mempertahankan Verstappen. Meski tawaran kontrak dengan angka lebih besar ikut berperan, pembalap Belanda itu beberapa bulan sebelumnya sempat mempertanyakan apakah ia masih ingin melanjutkan karier di F1, bukan sekadar tim mana yang akan dibelanya. Keberhasilan meyakinkan Verstappen untuk bertahan adalah pencapaian tersendiri bagi Mekies.
Selain itu, Mekies juga berhasil menjaga stabilitas tim di tengah transisi besar. Ia tidak hanya fokus pada performa di lintasan, tetapi juga membangun kembali kepercayaan di dalam tim. Dengan pendekatan yang tidak konfrontatif, ia mampu meredam gejolak internal yang sempat membuat Red Bull seperti sarang tawon. Perlahan, budaya baru mulai terbentuk: kerja sama, keterbukaan, dan fokus pada pengembangan.
Ke depan, tantangan masih berat. Red Bull harus terus mengembangkan mobil agar bisa bersaing ketat dengan McLaren dan tim lain. Tapi setidaknya, fondasi sudah mulai terlihat. Mekies mungkin bukan sosok yang gemar mencuri perhatian, tetapi hasil kerjanya mulai berbicara sendiri. Jika Red Bull bisa kembali ke jalur kemenangan, nama Mekies akan semakin diperhitungkan sebagai arsitek kebangkitan mereka.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!