Laurent Mekies disebut-sebut sebagai sosok yang berhasil mematahkan kutukan kursi kedua Red Bull Racing. Klaim ini datang dari broadcaster Formula 1, Will Buxton, yang menilai perubahan budaya tim di bawah Mekies telah menciptakan lingkungan lebih suportif bagi Isack Hadjar.
Selama bertahun-tahun, kursi di samping Max Verstappen bagaikan kursi panas. Sergio Perez, Liam Lawson, hingga Yuki Tsunoda silih berganti, namun tak ada yang benar-benar betah. Perez hengkang ke Cadillac, Lawson hanya bertahan dua akhir pekan sebelum dikembalikan ke Racing Bulls, dan Tsunoda menghabiskan sisa 2025 tanpa hasil gemilang. Kini, Hadjar yang dipromosikan ke Red Bull untuk 2026 justru tampil mengejutkan.
Buxton dalam podcast Up To Speed berpendapat bahwa pendekatan Mekies yang lebih modern dan manusiawi menjadi kuncinya. "Fakta bahwa mungkin kutukan itu sedang dihilangkan, bukan karena apa yang dilakukan Isack, tapi karena apa yang dilakukan Laurent dan budayanya di tim," ujarnya. Ia membandingkan dengan era Christian Horner dan Dr Helmut Marko yang terkenal keras. "Dulu, ada anggapan bahwa berlian ditempa di bawah tekanan. Dengan menghilangkan tekanan itu dan mungkin merangkul, menciptakan ruang yang aman dan bahagia, sehingga Isack bisa pergi hampir dua bulan, memulihkan diri, kembali dengan kontrak baru di kantong, bukan roket di pantatnya."

Hadjar sendiri mengalami cedera pergelangan tangan selama jeda musim panas, yang membuatnya absen. Grand Prix Azerbaijan menjadi balapan pertamanya kembali, dan ia langsung finis ketiga. Performa tersebut seolah membuktikan bahwa lingkungan yang mendukung dapat mengeluarkan potensi maksimal pembalap muda.
Perubahan budaya ini juga tak lepas dari peran Mekies yang sebelumnya menangani Ferrari. Ia dikenal sebagai manajer yang komunikatif dan memberikan kepercayaan penuh kepada pembalap. Di Red Bull, ia berusaha menghapus stigma bahwa kursi kedua adalah tempat pembantaian karier. Alih-alih menekan, ia membangun fondasi mental yang kuat.
Dengan hasil positif Hadjar, publik mulai bertanya-tanya apakah ini awal dari era baru di Red Bull. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Red Bull akhirnya menemukan tandem yang solid untuk Verstappen, sesuatu yang lama mereka rindukan. Masa depan akan membuktikan apakah kutukan benar-benar telah sirna.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!