Regulasi Formula 1 2026 dirancang untuk membuka era baru balapan yang berkelanjutan dan sangat efisien, dengan pembagian tenaga 50/50 antara mesin pembakaran internal dan baterai elektrik. Namun, jika ditanya kepada pembalap paling agresif di grid, arah perkembangan ajang balap ini dinilai menuju jalur yang keliru.
Dilansir dari Motorsport.com, dalam sebuah penampilan di siniar P1 with Matt & Tommy, Max Verstappen mendapatkan pertanyaan sederhana mengenai aturan tunggal apa yang ingin ia ubah di Formula 1. Tanpa keraguan, sang juara dunia empat kali memberikan jawaban yang langsung memicu sorotan para pencinta motorsport klasik: membuang mesin hibrida turbo V6 yang berat serta rumit, lalu kembali menggunakan mesin V8 non-turbo.
Formula 1 sudah tidak lagi merasakan deru mesin V8 sejak akhir musim 2013, tepat sebelum era hibrida yang kontroversial dimulai. Sejak saat itu, bobot mobil F1 menjadi sangat berat dan terlalu bergantung pada manajemen baterai yang kompleks. Ketika ditanya tentang perubahan aturan utamanya, Max Verstappen secara blak-blakan langsung mengincar sektor unit daya.

Bagi pembalap andalan Red Bull Racing tersebut, kembalinya mesin V8 bukan sekadar soal nostalgia suara mesin yang lebih bising, melainkan solusi mendasar untuk mengatasi masalah bobot dan kemudahan pengendalian mobil generasi modern. Penggunaan mesin V8 dinilai mampu menyelesaikan berbagai masalah teknis secara instan dan membuat mobil jauh lebih ringan serta menyenangkan untuk dikendarai.
Bagian paling menarik dari gagasan Max Verstappen adalah solusinya untuk urusan menyalip di lintasan. Sejak tahun 2011, Formula 1 mengandalkan Drag Reduction System atau DRS untuk membantu pembalap melakukan manuver overtake di trek lurus. Ia meyakini bahwa mobil bermesin V8 yang lebih ringan, dipadukan dengan sistem dorongan elektrik kecil ala IndyCar, dapat menghapus keberadaan DRS untuk selamanya.

Sistem dorongan elektrik manual atau push-to-pass memberikan kendali penuh kepada pembalap untuk melakukan aksi berani saat pengereman, alih-alih sekadar melaju melewati rival dengan mudah di tengah trek lurus akibat kepakan sayap belakang yang terbuka. Menurutnya, terkadang DRS bekerja terlalu dominan di beberapa titik sirkuit.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!