SPONSORED

Kisah Simona de Silvestro: Dari Mimpi F1 hingga Olimpiade 2026

Notifikasi
Ujang Suryana
Ujang Suryana
0
Kisah Simona de Silvestro: Dari Mimpi F1 hingga Olimpiade 2026
TO NEWS OVERVIEW
Simoa de Silvestro switched from racing cars to bobsleigh, making her Olympic debut earlier this year. Image: XPB Images

Perjalanan karier Simona de Silvestro di dunia balap menyimpan cerita emosional yang mendalam, mulai dari perjuangannya menembus Formula 1 hingga keputusannya banting setir ke dunia bobsleigh dan tampil di Olimpiade Musim Dingin Italia. Jauh sebelum cabang olahraga es masuk dalam lembaran hidupnya, impian utama pembalap asal Swiss ini adalah berdiri di level tertinggi motorsport dunia.

Memulai karier karting sejak usia enam tahun di Swiss sambil menyaksikan kejayaan Michael Schumacher bersama Ferrari, tekad de Silvestro sudah bulat. Kepada Speedcafe, ia menegaskan bahwa tujuannya sejak awal sangat jelas. 'Seperti pembalap pada umumnya, terutama di Eropa, Formula 1 adalah tujuannya. Saya selalu menonton Formula 1 bersama ayah saya, dan saat tumbuh dewasa itulah tujuannya. Ketika saya mulai berkarting, di kepala saya sudah, oke, saya ingin menjadi pembalap Formula 1,' kenangnya.

Ketekunan tersebut membawanya hijrah ke Amerika Serikat pada usia 18 tahun untuk bersaing di Formula BMW dan Formula Atlantic. Setelah mengamankan empat kemenangan dan finis ketiga di kejuaraan Formula Atlantic 2009, ia melompat ke ajang IndyCar pada 2010. Debutnya langsung memukau ketika ia finis di posisi ke-14 pada ajang Indianapolis 500 dan menyabet gelar Rookie of the Year yang bergengsi.

Max Verstappen Comeback Gemilang di GT Portimao 2026
Baca JugaMax Verstappen Comeback Gemilang di GT Portimao 2026

Puncak performanya di IndyCar tercipta tiga tahun berselang ketika ia mengamankan posisi kedua di jalanan Houston. Capaian tersebut menjadikannya wanita ketiga yang meraih podium IndyCar setelah Sarah Fisher dan Danica Patrick, sekaligus wanita pertama yang naik podium di sirkuit jalan raya. Meski demikian, transisi kariernya sempat menemui persimpangan ketika ia mencoba mendekati kasta premier balap kursi tunggal.

ADVERTISEMENT

Peluang emas datang pada 2014 ketika tim Sauber merekrutnya sebagai pembalap afiliasi dalam program pengembangan yang mencakup pengujian simulator dan persiapan fisik untuk mengincar kursi balap 2015. Sayangnya, impian tersebut kandas akibat kendala finansial tim. 'Di satu sisi itu sangat dekat. Sangat dekat dalam arti saya melakukan lima hari tes dan semuanya berjalan cukup baik. Namun sayangnya pada saat itu di 2014-2015, Sauber berada di masa yang sedikit sulit. Dan mereka benar-benar membutuhkan banyak dukungan dari pembalap untuk membawa sponsor. Dan pada akhirnya saya tidak benar-benar memiliki jumlah sponsor yang diperlukan,' ungkapnya jujur.

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Aman, Cepat & Terenkripsi

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

RECOMMENDED FOR YOU