Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem berambisi untuk membawa kembali mesin V8 yang ikonik ke ajang Formula 1 satu tahun lebih cepat dari jadwal semula, demi merespons berbagai kritik terkait regulasi unit daya saat ini. Namun, langkah ambisius ini membutuhkan dukungan penuh dari para pabrikan untuk mempercepat transisi regulasi menuju tahun 2030 mendatang.
Hanya berselang beberapa bulan setelah penerapan regulasi unit daya baru, badan pengatur tertinggi otomotif dunia ini sudah merancang perombakan mesin berikutnya. Aturan yang berjalan saat ini memang memicu kritik tajam dari para pembalap maupun penggemar setia, sehingga diskusi intensif mengenai siklus mesin masa depan terus bergulir di dalam paddock.
Penerapan rasio daya listrik dan termal yang masif membuat para pembalap harus mengubah gaya balap secara drastis untuk mengelola energi listrik di atas trek. Meskipun hal tersebut meningkatkan jumlah aksi menyalip, banyak pihak menilai sensasi balapan menjadi terasa terlalu artifisial dan mengurangi esensi pertarungan murni di lintasan.

Berbicara di sela-sela pengumuman resmi Grand Prix Rwanda, Ben Sulayem menegaskan bahwa kesepakatan ini akan segera tercapai. “Itu akan disetujui, karena jika tidak ada V8, mungkin akan ada V16 jika mereka tidak mengambil V8, dan mereka tahu itu,” ungkapnya menjelaskan dinamika negosiasi dengan para pembuat regulasi dan pabrikan.
Agar rencana besar ini dapat terwujud sebelum tahun 2031, presiden asal Uni Emirat Arab tersebut harus mengantongi persetujuan dari setidaknya empat dari enam pabrikan unit daya yang ada saat ini. Konsultasi intensif telah berjalan dan dokumen resmi sudah berada di tangan tim serta para petinggi pabrikan mesin.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!