Sesi kualifikasi Grand Prix Sao Paulo di sirkuit Autodromo Jose Carlos Pace Interlagos menghadirkan cerita menarik ketika Fernando Alonso berhasil membawa mobil Aston Martin miliknya menembus babak Q3 untuk pertama kalinya musim ini. Kendati mengamankan posisi start kesembilan yang kemudian naik ke grid kedelapan menyusul penalti yang diterima Charles Leclerc, sang juara dunia asal Spanyol tersebut justru merasa tidak puas dengan pencapaiannya.
Kondisi lintasan yang basah di Interlagos kerap menjadi panggung unjuk gigi bagi para pembalap kawakan untuk menutupi kekurangan performa teknis kendaraan. Memanfaatkan kecerdikannya di atas aspal licin, pembalap veteran bernomor mobil empat belas ini sukses mengambil keputusan strategis krusial ketika menjadi yang pertama beralih menggunakan ban intermediate saat situasi mulai membaik menjelang akhir sesi penentuan.
"Sangat sulit, tetapi saya pikir kami memaksimalkan performa dengan ban full wet, putarannya cukup bagus, mungkin saya tidak bisa mengulanginya lagi," ujar pembalap berusia 45 tahun tersebut kepada Sky Sports F1.

Ia menambahkan keputusannya beralih ke ban intermediate merupakan pertaruhan wajib demi menembus posisi sepuluh besar. "Saya katakan bahwa kami berada di posisi kesembilan, jadi jika kami tidak mengubah apa pun dan terus melaju, kami mungkin akan tersingkir dari Q3. Jadi lebih baik beralih ke ban intermediate. Jika berhasil kami masuk Q3, jika tidak, kami memang akan tersingkir dengan ban full wet. Jadi itu layak dicoba."
Meskipun sukses mencatatkan hasil terbaik sepanjang musim ini di tengah tantangan reliabilitas mobil AMR26, keyakinan bahwa potensi mobil bisa menembus posisi empat atau lima besar justru membuat kekecewaannya semakin besar. Kesalahan dalam manajemen ban yang masih dingin pada percobaan pertama serta manajemen energi baterai yang habis pada putaran berikutnya membuat sang pembalap veteran merasa kehilangan kesempatan emas.
"Ya, tentu saja. Saya berada di urutan terdepan dalam antrean dan berpikir mungkin ini memberi kami peluang untuk berada di posisi empat atau lima teratas jika hujan turun. Namun intensitasnya tidak seperti yang kami perkirakan, sehingga cuaca bertahan untuk dua putaran cepat bagi semua orang," ungkapnya menjelaskan.
"Kemudian kedua kalinya saya sama sekali tidak mengoptimalkan Q3. Pada putaran pertama ban saya sangat dingin. Saya sama sekali tidak memiliki cengkeraman. Dan pada putaran kedua, saya menggunakan banyak energi deployment pada putaran pertama karena saya pikir itu hanya kualifikasi satu putaran. Saya berakhir di zona nirwana. Pada putaran pertama ban belum siap dan pada putaran kedua deployment belum siap, jadi saya harus belajar dari pengalaman ini."
Menatap jalannya balapan utama di akhir pekan ini, strategi mengambil risiko besar dalam kondisi cuaca basah dipandang sebagai opsi terbaik bagi tim Aston Martin demi mendulang poin penting di paruh akhir kalender balap Formula 1.
"Saya pikir kami memiliki peluang yang lebih baik. Dalam kondisi basah, Anda bisa mengalami DNF karena kesalahan bodoh atau Anda bisa mencetak poin. Saya pikir pada tahap musim ini kami lebih memilih untuk mengambil perjudian. Dalam kondisi kering kami sedikit kesulitan," pungkasnya.




Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!